Beberapa saat Bastian diam, lalu dengan rahang mengeras, pria tampan berusia akhir dua puluhan itu mendekati Asha. “Hanya aku yang boleh kamu tolong. Bukan yang lain. Kamu bukan Pahlawan Pemberantas Kejahatan, Sayang. Biarkan para polisi itu bekerja.”
Kemarahan Asha memuncak seketika. “Aku tidak ambil pekerjaan mereka. Aku hanya bantu sedikit!” ia merasa sesak dan bisa menangis saking marahnya.
“Asha?” Tiba-tiba Asha melihat mama dan papanya berdiri di depan rumah mereka dengan pakaian pesta. “Ada apa? Kenapa kamu enggak segera masuk dan bersiap-siap?”
“Asha baru selesai memberantas kejahatan dengan menangkap pedofilia yang memangsa anak kecil, Tante!” Lalu Bastian, tertawa seolah itu lelucon bagus.
Asha langsung teringat anak lelaki kecil si korban dan itu bukan sesuatu yang pantas ditertawakan. Dengan muak Asha berpaling ke arah Bastian dan mulai bicara dengan suara bergetar. “Kamu benar, Bas. Aku lebih baik jadi Pahlawan Pembasmi Kejahatan daripada jadi tunangan bodohmu!”
Sebelum Bastian memahami tiap detail kata-katanya, Asha sudah berjalan pergi menyeberangi halaman rumah Oma Linda, kemudian terus saja memasuki halaman rumahnya sendiri, melewati mama dan papanya. Masuk terus ke dalam rumah, naik ke kamarnya di lantai dua, dan mengunci pintu rapat-rapat. Tak ingin siapa pun mengganggunya hingga esok pagi. (f)
***
Nimas Aksan
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
http://www.femina.co.id/fiction/


