Fiction
Cerpen: Lelaki Kecil di Sedan Kuning

3 Feb 2018


Bagaimana mungkin hal semengerikan itu terjadi di kota sekecil ini? Asha bergidik. Hanya satu jam beberapa menit lagi menuju pesta pertunangannya di sebuah hotel berbintang.

Dari kejauhan Asha terus memantau mobil sedan kuning itu. Adrenalinnya seketika memuncak ketika sebuah mobil kijang berisi sepasukan polisi berpakaian sipil tampak memasuki area parkir dan melaju menjejeri mobil kuning itu.

Asha nyaris tak berani bernapas, terus mengamati adegan demi adegan, bagaimana mobil kijang itu berhenti tepat di depan sedan kuning setelah beberapa menit menjejerinya dan kedua mobil itu lantas berhenti.

Empat orang perwira polisi tanpa seragam resmi mendatangi mobil sedan kuning dan mengetuk kaca
jendelanya. Lalu kejadian selanjutnya seolah terjadi begitu cepat. Keempat lelaki di sedan kuning dibekuk masuk ke dalam mobil kijang, sementara dua orang polisi membawa mobil sedan kuning mereka. Anak lelaki kecil yang tampak sangat ketakutan itu dibawa masuk bersama dua polisi dalam mobil sedan kuning dan melaju pergi.

Sebuah mobil sedan lain berhenti dan pengendaranya turun. Rifai tampak mengedarkan pandangannya, lalu mengangkat ponsel ke telinga.

Ponsel Asha tiba-tiba berbunyi. “Halo? Kamu di mana?” tanya Rifai.

“Arah jam sepuluh dari tempatmu berdiri.” Rifai sekitar lima puluh meteran darinya, seketika itu dia pun menoleh dan menemukannya. Asha menutup ponsel, mengabaikan lusinan pesan singkat dari Bastian dan Mama.

“Apa-apaan tadi itu?” tanyanya masih gemetar ketika Rifai mendekatinya.

“Komplotan pedofilia terorganisasi. Korbannya kebanyakan anak-anak jalanan yang diberi iming-iming rupiah sekadarnya. Unit PPA sudah lama mengincar komplotan ini. Mereka ternyata berpraktik mesum di seputaran tempat parkir ini dengan modus pura-pura belajar menyetir. Terima kasih sudah membantu kami,” Rifai berkata lembut sambil menatap mata gelisah Asha.

“PPA itu….”

“Unit Perlindungan Perempuan dan Anak.”

“Bagaimana nasib anak kecil tadi?”

“Dua temanku mengantar ke rumahnya, yang menurutnya di dekat pekuburan Katiasa, rumah-rumah kardus semipermanen yang menempel di tembok luar pabrik, di atas tanah milik pemerintah. Dia akan segera divisum. Bukan hanya anak-anak jalanan seperti mereka yang jadi korban, tapi juga anak-anak korban kesibukan orang tua. Kamu akan terkejut melihat laporan anak hilang yang makin menyibukkan Unit PPA akhir-akhir ini.”

“Ya, Tuhan.” Asha menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca."
 


Topic

#FiksiFemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?