Baru saja Asha selesai mengunci pintu rumah Oma Linda usai mengantar Terry, ada suara Bastian berteriak.
“Kamu di situ rupanya! Jam berapa ini?”
“Ada insiden tadi di lapangan parkir,” Asha mencoba memberi alasan dengan suara tertahan.
“Insiden apa? Kamu menggagalkan perampokan?”
Kenapa Bastian mengatakan hal seperti itu? Dan dia tiba-tiba tersadar, entah bagaimana terjadinya, tiap kali ada janji temu atau apa pun dengan Bastian, selalu saja ada kejadian-kejadian tak terduga yang membuatnya terlambat. Perampokan di simpang jalan hanya salah satunya.
“Bukan perampokan kali ini, ada korban pedofil terorganisasi. Aku harus menghubungi polisi. Untunglah ada Rifai.”
Bastian tercengang, dan dipastikan dia rasa itu omong kosong. “Kamu ingat kan malam ini kita bertunangan?”
“Ya, kamu mengumumkannya tanpa seizinku di koran.”
“Banyak relasiku yang hadir, harus dibuat eksklusif.”
Asha terpaku. “Kamu tak mengizinkanku mengundang siapa pun selain keluarga, tapi mengundang para relasi?”
“Relasiku kan berbeda. Ini demi kelancaran proyekku. Ayo bersiap-siap. Seluruh keluargaku bahkan sudah tiba di hotel di saat kamu hanya memikirkan menolong orang lain.”
Kata-kata Bastian membuat Asha marah. “Apa salahnya dengan menolong orang? Kamu ingat, begitulah caraku bertemu kamu. Saat itu kamu baru saja ditabrak lari oleh mobilmu yang dibawa mantan pacarmu. Aku yang sedang menemani Mama di IGD lalu meminjamkanmu ponselku agar kamu bisa menelepon ibumu. Ingat?”
Topic
#FiksiFemina


