Fiction
Enigma [1]

12 Oct 2012


Kudekap tubuhnya seumpama induk ayam melindungi kuthuk yang menggigil oleh angin santer. Bibirnya mendekati telingaku, tapi aku tak perlu tersirap atau cemas. Seluruh hasrat untuk menyesap rasa madu di lehernya sudah kuluruhkan sejak perpisahan 18 bulan lalu. Sejak kami berpisah kantor. Berpisah rute perjalanan.
“Terima kasih telah menjaga keperawananku,” bisiknya. Tersiar uap dari mulutnya, terasa basah relung telingaku. Aku yakin dia memahami betapa besar rasa sayangku kepadanya. Masih sama harum rambutnya tercium oleh hidungku. Tak berubah hangat tubuhnya saat pipi kami saling beradu.

***

Album itu terbuka kembali, menggulirkan gambar hidup. Berselancar dalam binar.
”Kudengar Anin tidak cocok dengan Rosa.” Berembus desas-desus di kalangan teman kantor. Beredar marak di antara kepulan kopi panas dan semangkuk bubur ayam yang terhidang di meja kantin pagi.
”Ah, itu biasa. Dua arsitek dalam satu bagian, tentu saling cemburu.” Terhambur komentar lain.
”Kurasa lebih pada persoalan senior dan junior. Anin masih fresh, sementara Rosa tidak ingin kehilangan citra,” sambung si ‘tukang kompor.’
“Hai!” suara Anin --makhluk yang sedang dibicarakan-- meredakan semerbak isu.
“Nasi uduk separuh, dong! Pakai bakwan, ya!”
Ibu kantin mengangguk dan meramu permintaan Anin. Si ceria penuh semangat itu lekas dikenal dalam komunitas sarapan. Seperti biasa, ia duduk agak sembrono. Edar matanya hinggap padaku. Senyum yang terkembang menyebabkan sepasang tulang pipinya menjulang.
”Eh... pagi, Mas! Nanti jadi meeting?”
Aku mengangguk sebagai konfirmasi. Rasa-rasanya, aku mulai jatuh hati kepadanya melalui serangkaian rapat koordinasi perencanaan gedung pamer untuk motor dan mobil. Aku mengurusi mobil, dan dia menangani display motor. Sebetulnya ada bentangan usia yang berpotensi menghalangi kesamaan selera. Aku satu angkatan dengan atasannya, Rosa. Untuk itulah kuajak serta stafku, Munaf, sebagai kawan diskusi yang sebaya.
”Sebaiknya kalian pacaran saja. Biar aku lekas punya menantu,” kataku, berseloroh kepada Munaf mengenai Anin. Munaf tersenyum, mungkin sambil menakar saranku. Dalam satu teamwork yang bekerja intens, mestinya mudah terbangun chemistry. Kami sering bersama-sama menghadap Kimura-san untuk asistensi. Berbagi pendapat, mengolah gagasan, merealisasi keseimbangan antara anggaran dan idealisme.
Setengah tahun berlalu, gedung tua di sebelah kantor kami berubah keren oleh sentuhan ide Anin dan Munaf. Namun, gesekan antara Anin dan Rosa justru kian kentara, sampai suatu saat: ”Aku bingung mau ngerjain apa. Tugas desain interior tidak turun kepadaku. Dari Bu Rosa langsung ke vendor....”
”Mungkin karena sudah tak perlu penciptaan lagi, tinggal implementasi sesuai buku manual,” ujar Munaf, menghibur Anin. Aku sempat mendengar curhat itu, di antara kelompok makan siang.
Anin bukan orang yang gemar menganggur. Ia merindukan terbang ke daerah, untuk survei atau supervisi pekerjaan. Segera tersebar kabar sayup, bahwa dia akan resign jika tak berguna lagi.
Direktur pemasaran kami berbeda, tetapi memiliki manajemen puncak yang sama. Bagiku ini sebuah kesempatan. Perasaan jatuh cinta membuatku gigih mengalihkan perhatian Anin agar bersedia masuk ke dalam departemenku. Gadis cerdas itu tak boleh hinggap di perusahaan lain. Pikiranku menyarankan aura yang nyaman untuk Anin bekerja kreatif.
”Selamat datang di kompartemen kami.” Aku menyambut hari pertamanya di meja kerja, di seberangku. ”Nanti kita menghadap Kimura-san. Melaporkan wajah baru stok lama di departemen pengembangan showroom.”
Anin tertawa menunjukkan geligi yang putih rata.
 ”Okay! Mestinya dirayakan dengan dinner, nih!”   
Aku tahu dia menggoda. Dan aku pura-pura terjebak.
”Kamu boleh memilih hari. Boleh juga memilih tempat.”
Dalam dua minggu, aku meyakini bahwa Munaf hanya menjadi teman sejawat Anin. Dalam dua bulan aku merasa kerap pilih kasih saat mereka berbeda pendapat. Pada sebuah perjalanan kunjungan gerai di pinggiran Jakarta, kami sudah mulai berbagi kopi dari gelas kertas yang sama. Tidak terlalu sulit untuk membuat skenario agenda dinas yang membagi rute menjadi dua. Kupasangkan Munaf dengan Ika, untuk memosisikan Anin sebagai tandemku dalam sosialisasi program ke sejumlah kota di Jawa dan Sumatra.
”Apa harapanmu di hari Valentine saat tugas seperti ini?” tanyaku kepadanya, setelah pesawat tinggal landas pada pertengahan Februari lalu.
”Hmm....” Mata Anin terpejam dengan senyum misterius. ”Sebuah keajaiban.”
“Misalnya mendapatkan hadiah dari kantong kursi?”
Seketika matanya terbuka penuh curiga. Tanpa kesabaran sedikit pun tangannya menarik majalah Garuda di depan lututnya. “Wah!”
Sebuah novel yang ketinggalan di pesawat saat turun di Palembang kemarin, terganti novel berjudul sama dengan sampul masih kaku dan licin. Berteman sebatang cokelat padat yang akan memanjakan lidah dan langit-langit mulutnya.
”Terima kasiiiih!” Anin mendekap kedua benda itu di dadanya. Ia pun membiarkan hidung dan bibirku menempel lama di pipinya. ”Happy Valentine, Baby.”
 
***

Belum luntur dari genangan ingatan, aku berdiri di Balairung Manggala Wana Bhakti, menjadi among tamu untuk pernikahan Anin yang megah. Dengan tulus sekaligus perih hati. Aku melihatnya secantik peri dalam balutan satin dan brokat ungu muda. Sepasang tulang pipinya yang menjulang memperkuat kesan anggun.
Dulu aku suka berlama-lama menangkap pinggulnya yang penuh, setiap ia ambruk manja dengan tangan melingkari leherku. Di malam beraroma cendana itu, aku menjadi bagian keluarganya, menjadi tuan rumah yang menyapa ramah setiap tamu undangan. Anin, sungguh semua itu kulakukan dengan penuh cinta.
C’est la vie. Semua berlangsung seperti yang tergurat pada telapak tangan, palmistry yang tidak pernah kami yakini. Aku tentu tidak berhak atas hidup Anin. Dia pun tak bisa merebutku dari istri dan anak-anakku, seperti acap dilakukan perempuan dengan asmara lepas kendali. Di antara kami hanya terentang jembatan imajinasi yang rapuh dan sewaktu-waktu roboh. Namun, semacam lengkung katumbiri, warna hari yang kami lalui memiliki nuansa tersendiri.
Suaranya hilang dan muncul oleh rindu yang menerbitkan cemburu: sedang apa dan dengan siapa dirimu sepekan ini? Seperti siulan iseng, sesekali mengganggu. Namun, yang membuatku ingin pingsan bukan ketika Anin menyampaikan kabar hendak menikah pada pagi yang ranum.
”Aku mau mengakhiri masa lajang,” ujarnya, melalui telepon. Suaranya tak sanggup kupisahkan dari kemanjaan.
”Akhirnya...,” sahutku dengan kecamuk perasaan antara tulus dan kehilangan.
”Aku mau mengundangmu untuk hadir dalam acara akad nikahku. Mau tahu siapa calonku?”
Aku tak siap berdebar. Kudengar dari sahabatnya, beberapa kali Anin putus hubungan dengan pacar-pacarnya. Nama-nama mereka jauh dari pergaulanku, sehingga kupikir tak terlalu penting.
”Siapa?”
”Kimura-san!”
Mendadak ada alasan untukku membeku serupa batu es, padahal sorot matahari begitu hangat membilas sebagian tubuhku. Yoshiro Kimura itu atasanku terpaut dua jenjang. Atasan kami saat Anin menjadi satu departemen denganku, sebelum dia pindah ke biro arsitek yang lahap menampung desain-desain impiannya. Beberapa kali kami mempresentasikan hasil kunjungan daerah kepada si jepun muda dan tampan itu. Sudah jamak kami rapat dengannya. Betapa mengejutkan!
”Serius?” Aku mencoba tertawa. Menduga keras Anin sedang bercanda.
”Sangat serius. Pasti kamu tak percaya. Hmm... ceritanya panjang.”
Sepanjang apa? Sepanjang delapan belas bulan? Bolehkah aku tidak tertarik mendengar ceritamu? Bagaimanapun, kami pernah safari berdua dengan mesra dari ujung ke ujung Nusantara. Aku hafal betul bentuk tubuh Anin saat meringkuk di atas seprai masai dengan napas teratur di bawah lampu kamar yang temaram. Sebelum... sebelum aku pindah ke kamarku melalui connecting door.
”Sementara, aku mau ini dirahasiakan dulu. Kami melangsungkan akad nikah saja, pestanya empat bulan kemudian.”
”Jadi, maksudmu, aku akan menghadiri pernikahan rahasia?”
Tak urung, teka-teki meraut pikiranku.
”Ini persoalan kesiapan atau ada sesuatu yang harus diselamatkan?”
”Nggak, Mas. Jangan berprasangka buruk.” Anin meyakinkanku tanpa penjelasan. Dia membiarkan aku menghimpun tanda tanya.
”Pokoknya, aku dan Kimura-san hanya mengundang kerabat dekat. Satu-dua teman karib.”
Begitu dekatnya kita, pikirku sendu. Namun, itu sudah menjelma catatan masa lalu. Energi dan suara Anin pernah kualihkan pada Erina, seorang editor in chief sebuah majalah gaya hidup. Pada malam-malam kami makan bersama, sosok Anin dapat kusembunyikan dengan menatap lekat wajah Erina.
  ”Datang, ya. Aku sungguh berharap. Aku bilang pada Kimura-san bahwa kamu sudah seperti kakakku, Mas.“
Seorang ’kakak’ yang memiliki banyak cara dalam menyayangi ’adik.’ Uff! Harus kuhapus seluruh foto perjalanan kami dari jejaring sosial. Aku, seperti juga Anin, tentu tak ingin mengail pertanyaan tak penting dari Kimura.
Aku menjaga senyum tetap terkembang saat foto bersama pengantin di panggung pelaminan. Sengaja aku merapat di sebelah Anin agar tak bisa ia berpaling pandang dariku setiap kali membuka potret pengantinnya. Sampai kapan pun.

****

Malam melarung rasa gundah. Aku tak menyangka, petang sepulang kantor, Anin menculikku ke sebuah restoran kecil nan romantis di depan deretan kedai barang antik. Seminggu setelah pesta pernikahannya. Masih berpelukan, aku membalas bisikannya. ”Kita tak pernah berpisah, bukan?”  
Malam ini, aku hanya ingin memiliki dada yang jembar. Ruang luas untuk melarutkan perasaan patah hati. Tempat lapang untuk sesekali menampung kepala Anin yang rebah pasrah. Enigma itu kubiarkan kekal dalam dadaku.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?