Jantung Asha berdebar kencang sementara mobil itu bergulir menjauhinya. Dia mencoba menyusun berbagai teori dan semuanya membuat perutnya seperti bergolak. Asha menatap ponselnya, mencari mencari sebuah nama.
“Halo, Rifai?”
Terdengar suara ramah Ahmad Rifai, teman satu sekolahnya dulu kini bertugas sebagai penyidik di kepolisian.
“Hai! Asha? Tumben sekali menelepon sore-sore gini?”
“Kamu masih tugas di kota, Rif?”
“Masih, kenapa? Mau memperpanjang SIM?” Rifai bercanda.
“Kurasa lebih dari itu. Bisakah kamu datang ke area parkir Kompleks Bima?”
“Ada apa? Kamu menemukan mayat?”
“Aku tidak yakin apa yang terjadi, tapi baru saja aku melihat mobil mencurigakan. Pengendaranya pria, seperti belajar menyetir, tapi aku yakin dia sudah mahir. Juga tiga orang pria lainnya dan anak kecil. Seperti anak jalanan, bajunya lusuh, tak beralas kaki, sementara keempat pria itu berkemeja dan tampak keren sekali. Anak itu sempat ke luar mobil, lalu ditarik masuk lagi dengan iming-iming sesuatu. Kurasa ada sesuatu yang tak beres. Pentingkah menurutmu?” Asha merepet dan tersengal.
Sejenak tak ada jawaban dari Rifai. Jangan-jangan dia hanya berlebihan, “Menurutmu itu tak penting? Kalau begitu jangan hiraukan aku….”
“Tidak, ini penting sekali!” Rifai menukas. “Kau di mana?”
“Di depan pintu utara GOR, di bawah pohon rindang dekat tukang minuman.”
“Mobil itu masih berputar-putar?”
“Ya.”
“Asha, kusarankan kamu menyingkir dari situ. Pergilah mencari tenda penjual makanan dan duduk di sana. Aku akan datang dengan satuan dari Unit PPA.”
“Unit PPA?” Asha mengernyit. Tapi Rifai sudah menutup telepon. Asha menggigit bibir, sesaat kebingungan.
Lalu dia ingat perintah Rifai untuk menyingkir ke tenda penjual makanan.
Topic
#FiksiFemina


