Fiction
Cerpen: Kompor Mainan dalam Lemari Tua

8 Jul 2017


Mulai hari itu, tiga hari sekali Huan rutin merebus singkong yang dia taburi sedikit garam. Dia bungkus daun pisang, lalu dia berikan kepada Purnomo. Sebagian singkong rebus dia wadahi rantang. Itu jatah untuk pria-pria berseragam di tenda pos penjagaan depan, antara sekolah dan rumah keluarga Lilani. Supaya becak-becak Huan dan pengemudi-pengemudinya tetap bisa mendatangkan uang setoran.

“Mak, itu siapa?” Lilani menunjuk ke arah Purnomo yang tengah mengungkit pompa air pada hari pertama di sumur keluarga.

Ssstt!” Huan melarang Lilani bertanya, tetapi membiarkan cucunya itu duduk di teras belakang. Mengamati Purnomo memenuhi ember-ember air dan memikul ulang-alik ke gedung sekolah.

Sesekali Purnomo melirik dan melempar senyum pada Lilani. Pada putaran terakhir, Purnomo meletakkan empat ember air dan pikulan di depan tempat Lilani duduk. Purnomo menuding kaleng-kaleng bekas di bawah kursi Lilani. Purnomo membawa kaleng-kaleng itu ke gedung Sekolah Merpati.

Setelah itu, Lilani makin kerap mengindik Sekolah Merpati. Berharap menemukan sosok Purnomo melintasi lubang kecil pagar seng. Lilani tak menemukan Purnomo. Namun, ia melihat orang-orang berjalan berurutan, digiring pria berseragam dari belakang. Mereka bertelanjang dada, dengan wajah kuyu, sebagian bermata bengkak, sebagian lagi memar di ujung bibir.

Maka soal erangan dan jeritan terjawab. Namun mengapa? Ada apa?
Purnomo datang lagi setelah tiga hari. Lilani kembali menunggui di teras belakang. Pada putaran terakhir, Purnomo menerima bungkusan singkong rebus. Kepada Lilani, Purnomo  memberikan kompor mainan dari kaleng bekas yang tempo hari dia bawa. Esok dan esoknya lagi, Purnomo dan Lilani sudah akrab bermain masak-masakan.

Pada hari-hari menunggu Purnomo datang, Lilani mencuri kelengahan maminya. Ia kembali mengintip Sekolah Merpati dari pagar bolong. Hanya sesekali Lilani menemukan Purnomo lewat bolongan itu. Ia lebih kerap melihat orang-orang kumal penuh luka yang makin hari kian meratai tubuh mereka.

Lilani ingin sekali menanyakan soal itu pada Purnomo. Namun ia sudah cukup lega, karena Purnomo datang tanpa luka sedikit pun di tubuh. Kendati Purnomo tampak makin kurus dan kuyu, Lilani senang Purnomo bisa tersenyum-senyum saat bermain dengannya. Mengobati kangennya memanjat pohon jambu di Sekolah Merpati.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?