SEJAK SEKOLAH Merpati ditutup, banyak orang yang entah berasal dari mana menjadi penghuni. Dijaga pria-pria berseragam dan bersepatu lars. Lilani kecil sering kali mengindik gedung Sekolah Merpati yang dia rindukan dari balik pagar seng di samping sumur keluarga di halaman belakang rumah. Pagar setinggi badan orang dewasa itu punya beberapa bolongan kecil karena dimakan karat.
“Lan, sedang apa?” tanya maminya suatu siang.
“Mami, Lani ingin main ke sekolah. Naik pohon jambu.”
“Sekarang sudah tidak boleh. Masuk sini, Lani. Main di dalam,” perintah maminya.
Jika sudah begitu, Lani hanya bisa menurut dan mengikuti maminya menuju ke meja depan. Lalu duduk di samping maminya yang kembali menghitung uang setoran becak.
Lilani tak berani menanyakan apa-apa. Termasuk soal erangan-erangan keras yang dia dengar di antara kesenyapan malam sebelumnya. Erangan kesakitan dan acap kali jeritan yang bersumber dari gedung Sekolah Merpati. Apakah itu hantu atau setan sedang disiksa atau seseorang sedang kesetanan?
Pernah Lilani menyenggol papinya. “Papi….”
Papinya merangkul gadis kecil yang semenjak Sekolah Merpati ditutup tidur bersama papi dan maminya itu. “Papi tidak dengar apa-apa. Lani tidur lagi.”
Sebetulnya Lani tahu papinya terjaga sepanjang malam.
Tepat sebulan sejak Lilani berhenti sekolah, salah seorang pria berseragam memakai ujung bedil untuk menggedor pagar seng bagian depan rumah keluarga Lilani. Kencang sekali. Huan tergopoh-gopoh membuka. Gedoran sekencang itu pasti bukan oleh tukang becak yang akan memarkir kendaraan di halaman depan.
Sebagai juragan, Huan biasanya menyahut ketukan salah seorang tukang becak, “Ya, tunggu!” Namun, kali itu Huan tak kuasa menyahut.
“Ada apa, Pak?”
“Bu, kami butuh tambahan air. Air dari sumur sekolah kurang. Ini Purnomo. Bolehkah dia mengambil air dari rumah Anda tiga hari sekali?” Pria berseragam itu menunjuk orang kumal di sebelahnya. Mata awasnya mengelilingi halaman. “Becaknya banyak, ya, Bu?”
Huan hanya mengangguk.
Topic
#fiksifemina


