Lilani sudah tahu isinya. Guci-guci kecil dan beberapa gelang giok oleh-oleh Om Yu dari Singapura ada di laci deretan paling atas. Lilani ingat, Huan menyimpan teko dan cangkir keramik serta beberapa lembar kain batik Lasem di laci tengah.
Kenangan sore yang pilu delapan belas tahun lalu kembali datang. Kala Lilani melihat Huan memasukkan arloji milik mami Lilani, juga kacamata dan cincin papinya di laci paling bawah sebelah kiri.
“Lan, bantu sini sebentar!”
Lamunan Lilani, yang sedang mengingat-ingat apa saja yang ada di dalam laci-laci lemari, buyar oleh seruan sang suami.
“Ya!” Lilani segera beranjak dari kursi Huan, menuju ke bagian depan rumah yang sekaligus menjadi toko.
“Ambil yang mana?”
“Itu alat masak-masakan bagus, Pah. Ambil lima. Lainnya ambil boneka-boneka, Barbie, Frozen. Sama mobil-mobilan. Itu Hotwheel sama Tomica banyak yang cari, Pah,” Lilani mengomando suaminya.
Sang penyetok dagangan untuk tokonya mencatat.
“Kompor-komporan ini, kok, bagus, ya. Warna-warni, lucu,” lanjut Lilani, meneliti alat masak-masakan. “Sekarang semua mainan dari plastik. Zaman saya kecil dulu kompor-komporan dari kaleng bekas, ndak diwarnai.”
Tiba-tiba Lilani disergap kenangan kanak-kanak yang masih menyisakan banyak pertanyaan. Masa ia berumur sembilan tahun dan harus berhenti sekolah karena Sekolah Merpati di samping rumahnya ditutup. Masa ia tak lagi bisa memanjat pohon jambu kluthuk di halaman Sekolah Merpati. Masa ia bertemu Purnomo tiga hari sekali dan mendapat hadiah kompor mainan dari kaleng susu bekas.
Topic
#fiksifemina


