Sarah terus menyusur lekuk jalan yang kadang menanjak dan menurun serta penuh tikungan. Berkali-kali ia terperosok dan kesandung. Pukul sebelas lebih dua menit kami tiba di tepi utara Sungai Awi. Berdiri di bawah pohon raksasa yang belukar akarnya menghujam ke dalam air. Kaki kami beralas tumpukan tebal daun kering dan tumpukan duri. Aliran
Sungai Awi yang berwarna cokelat seperti suara horor yang membuatku ngeri. Beberapa kali kulihat hewan-hewan mati dihanyut arus dan diterkam buaya yang seketika muncul dengan ganas. Sarah meletakkan tas di atas batu berlumut yang dihampari daun jati. Dadaku makin renyuh. Sebuah rakit kayu yang entah milik siapa terikat ke pangkal batang pandan.
“Mas. Doakan saya, ini demi cinta kita. Yakinlah, dalam energi cinta yang tulus, Tuhan akan mengirim banyak keajaiban.” Suara Sarah tegar beriring senyum. Tangannya lembut menyentuh bahu. Tak ada kata yang bisa kuucap padanya. Ia telah membuktikan sebuah pengorbanan.
Bibirku gemetar, aku bersimpuh memeluk dan mencium betisnya sambil menangis. Aku tak ingin kehilangan dia. Ketika Sarah mulai mengayuh rakit, aku tak kuasa melihatnya. Sengaja mata kupejamkan sambil membaca doa Nabi Yunus ketika dalam perut ikan--lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzzalimin.
Sarah-ilalang. Sarah-buaya. Bayang-bayang itu bergantian memenuhi kepalaku. Hingga --sekitar dua puluh menit kemudian-- ada tangan menyentuh pipi. Kubuka mata. Sarah tersenyum di depanku, memperlihatkan sehelai ilalang hijau, panjang dan wangi. Rupanya, ia berhasil mengambil ilalang di seberang melewati arus besar dan buaya-buaya ganas.
Topic
#FiksiFemina


