Aku tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Bersamaan dengan bulan pernikahanku. Ketika pujaan hati resmi kunikahi, dusunku dilanda penyakit aneh. Parahnya, penyakit itu membuat penderitanya cepat meninggal dunia.
Dusun kami seperti tanah kualat yang dipenuhi seribu makhluk halus yang jahat. Tiap hari pasti ada dua hingga empat orang meninggal setelah kulit mereka terdapat tanda lingkaran lebam hitam seperti bekas hantaman bola kasti. Dan tanda lingkaran lebam hitam itu kini juga tumbuh di lengan kiri Ibu. Hingga ia terbaring lemah dan tidak bisa bicara.
“Apakah sampean belum ke dukun atau dokter, Yah?” suaraku menyela isak tangis dan memecah ritme sunyi.
“Sudah tidak ada dukun dan dokter yang bisa menyembuhkan penyakit aneh semacam itu, Luk. Semua warga yang menderita penyakit seperti itu pasti meninggal, meski telah ditangani oleh dukun dan dokter. Kecuali hanya Bi Suhra satu-satunya warga yang bisa sembuh.” Suara Ayah agak serak. Sepasang matanya terlihat lembap.
“Bagaimana Bi Suhra bisa sembuh, Yah?” tanyaku singkat dan penasaran.
“Bi Suhra sembuh setelah menghirup daun ilalang wangi yang tumbuh di lereng Bukit Kina. Menurut paranormal, hanya wangi daun ilalang itu yang bisa menyembuhkan penyakit seperti itu. Tapi syaratnya, daun ilalang itu harus diambil oleh seorang wanita yang baru menikah pertama kali.”
“Sarah adalah wanita yang baru menikah. Biar nanti dia saya antar ke sana untuk mengambil daun ilalang itu, Yah.” Ayah menunduk. Diam tak berucap apa-apa. Air mata merembes dari sudut matanya. Kesunyian kembali merayapi seluruh ruang.
Topic
#FiksiFemina


