Fiction
Cerpen: Sehelai Ilalang Buat Ibu

20 Jan 2018


HARI INI aku hanya bisa berdoa atas keputusan nekat yang Sarah lakukan. Ia bersikeras untuk mengambil sehelai ilalang wangi di lereng Bukit Kina. Meski keputusan itu mendapat restu dari kedua orang tua Sarah, perasaanku tetap tersiksa. Karena mungkin mertuaku belum tahu keadaan lereng maut itu. Nyawa Ibu dan nyawa Sarah bermain-main di kepalaku. Pusing.

Tak terasa jam di ponsel menunjukkan pukul sepuluh, kami telah menempuh jarak sekitar satu kilometer memasuki pedalaman Dusun Runti dengan jalan kaki. Telah tiba di ngarai penuh semak berduri yang jalannya disesaki batu tajam dan terlihat samar karena dijulur rumput yang lebat. Beberapa kali kami diancam ular beragam jenis yang entah apa namanya. Tapi, Sarah tak terlihat ciut. Ia tetap tegar dan ceria berjalan di depanku sambil sesekali mencopot ujung jilbabnya yang dikait duri.

Makin ke dalam makin sunyi. Tak ada permukiman dan suara manusia. Hanya cericit burung dan lolongan anjing di kejauhan. Pohon-pohon besar di sisi jalan seolah raksasa yang menyimpan niat jahat.

“Kenapa masa indah pengantin baru kita harus terganggu seperti ini?”

“Jangan mengeluh, Mas. Hadapi semuanya dengan rida bahwa kenyataan yang kita jalani adalah ujian dari Allah,” jawab Sarah santai. Menoleh dan melepas senyum ke wajahku.

“Baru saja kamu menjadi istriku, sudah harus berjuang keras demi Ibu.”

“Karena berjuang demi Ibu adalah berjuang demi Mas Lukman. Berjuang demi cinta kita, Mas.”
 


Topic

#FiksiFemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?