Fiction
Cerpen: Panguian

10 Jun 2017


 
CRICULA trifenestrata nama ilmiah hama pemintal serat keemasan itu. Lengkung halus sayapnya mengisahkan sempurnanya sebuah penciptaan. Bahkan sebutir kokonnya yang berusia belasan tahun tak sedikit pun melapuk, tak seulas pun kehilangan kilaunya. Makhluk jelita itu mungkin tak mengarungi udara kota tempatku tinggal, namun kepak sayapnya di mana pun ia melintasi malam terus menyinggahkan risau. Setelah bertahun-tahun pertanyaanku tetap sama. Mengapa justru di tangan pengganti Mamasa hama itu jadi kunci kemakmuran rakiyat kami?
 
MATA GEORDA mengerjap tak percaya saat selendang kulepas dari kepala. Wangi tanah basah naik ke teras rumah panggungnya, menautkanku pada segenap ingatan yang tak butuh kukenang.
“Sejak apasa-mu wafat dan Lasa Barra menjadi sultan,” kisahnya, “Panguian pindah ke bilik pribadinya. Penyakit diabetes terus menggerus staminanya. Ia lebih suka berada di dalam dan hanya keluar sesekali.”
 Aku tak terkejut. Niat abangku untuk mengerdilkan keberadaan Panguian telah terealisasi rupanya. Sejarah pulau ini tak diizinkan mencatat kerja keras dan reputasinya. Serat-serat sutra emas itu cukup dipahami sebagai anugerah yang menjulai begitu saja dari langit. Maka, yang merapuhkan wanita itu bukan penyakit diabetes, tapi berbagai kebijakan baru yang menghadang langkahnya.
“Namun pagi itu seluruh peladang meradang,” lanjut Georda. “Ribuan ulat meriposo oro yang kemarin masih bergerumbul melahapi dedaunan ditemukan bergelimpangan di tanah. Ngengat dewasanya sama saja. Semalam mereka masih tampak beterbangan, tapi pagi itu tak seekor pun tampak.
“Para peladang lalu minta izin bertemu Panguian. Maka kudatangi bilik, kuketuk pintunya. Itulah saat pertama aku bertemu gadis itu. Ia yang membukakan pintu.
Panik dan kehabisan kata, ia hanya sanggup menunjuk-nunjuk tempat tidur Panguian. Segera aku menghampiri. Panguian nyaris kehilangan kesadaran. Tubuh kurusnya menggigil, basah oleh keringat dingin. Jelas kadar gula darahnya anjlok.
Kubantu Panguian minum sirop. Dua puluh menit kemudian beliau pulih dan memaksakan diri untuk menemui para peladang. Saat itulah aku ingat gadis itu. Aku bertanya pada semua yang ada di sana, tapi tak seorang pun melihatnya. Terpikir untuk bertanya pada Panguian, tapi sehabis menemui para peladang beliau tidur.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?