Fiction
Cerpen: Panguian

10 Jun 2017


Aku tersentak, terjaga. Gerimis deras di luar. Tempiasnya berjejak di kaca jendela kapal. Mata perihku tak sanggup mengartikan objek apa pun di depan sana.
Balose,” gumam seorang sahila, “kita sudah sampai, tapi mesin kapal mati.”
Ya. Balose Rui di depan sana. Di tengah semesta kelam dermaga tua itu seperti nyaris mati, kontras dengan napasku yang bergetaran oleh sensasi hujan daun kuning dalam mimpiku. Semua begitu nyata, memaksaku percaya bahwa aku pernah mengenal mereka, gadis-gadis kecil bergaun biru dan bercorak polkadot.
Dua sahila lain berbincang di belakangku. Aku ingat, pembicaraan mereka di awal perjalanan tadi yang memicu mimpiku.
“Konon begitu,” ujar sahila bersuara berat. ”Setelah memberi tahu Panguian wafat, gadis itu menghilang. Tak ada yang tahu asal usulnya. Entah bagaimana ia bisa berada di dalam puri, entah bagaimana pula ia keluar masuk pulau ini.”
“Tapi, pihak kepolisian sudah memanggil penjaga dermaga,” sahut rekannya, “juga memanggil Georda, among puri yang ditemui gadis itu. Semoga ada titik terang.”
Gunjingan yang aneh. Jadi ada seorang gadis yang datang tanpa tanda, lenyap tanpa jejak, dan muncul hanya untuk mengabarkan berita itu?  Tak sedikit pun Lasa Barra, abangku, bercerita soal ini saat mengabarkan wafatnya Panguian kemarin.
Mesin hidup lagi, membawa kapal mencapai dermaga. Rumpae Amba, batu raksasa yang dipercaya sebagai perahu pertama manusia Rui, diselempangi untaian cangkang kerang hitam, pertanda wafatnya anggota keluarga puri. Deretan lentera daun kelapa yang telah mengering kecokelatan dan rompal sana sini berderak-derak kaku didera gerimis deras. Hawa duka jelas masih bersemayam di pulau ini.
Penjaga dermaga tak sedikit pun memperhatikanku. Dengan kepala terbungkus selendang butut, tak ada yang tahu akhirnya aku pulang. Menggunakan ojek, dari Dermaga Rui aku menuju rumah Georda. Among puri yang diceritakan sahila di kapal tadi adalah teman SMA-ku.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?