SIANG ITU bumi Rui kuyup oleh hujan. Wangi tanah basah berkeliaran di udara. Di lorong puri seorang among duduk mengerjakan sesuatu. Benda-benda mungil keemasan terhimpun di dekatnya. Aku tertegun. Ada yang salah.
“Kokon meriposo oro bisa dipintal jadi serat sutra dan dibuat semacam ini,” ujarnya, seraya menunjukkan sesuatu. Aku terenyak. Sebuah bros. Kuning kemilau, mewah memukau! Bagaimana mungkin?
Kokon meriposo oro memang tak biasa. Kantong pembungkus pupa itu mirip jala emas. Reputasi sebagai hama yang membuat derajatnya tak lebih tinggi dari sampah, harus dienyahkan bersama lumpur, guguran daun dan patahan ranting. Masalahnya, mengapa di pulau ini, setelah beratus tahun, orang pertama yang menyadari keistimewaan kokon hama itu justru dia, wanita itu, Panguian…!
“Selama ini cuma sutra ulat murbei yang dikenal di luar negeri, tapi sutra emas? Langka! Apalagi ngengat ini tak bisa diternak, harganya tinggi!” ocehnya lagi. Tiap katanya yang sarat kekaguman bertubi menghujamkan rasa geram.
Sejak itu ladang dengan pepohonan bertajuk ribuan ulat bulu nan rakus menjadi pemandangan menakjubkan. Saat itu alam tengah menjanjikan limpahan kokon emas sekaligus pembungaan yang lebih baik karena pohon berganti daun. Panen kokon dan panen buah berkejaran. Panguian, pualam tak tersentuh itu, dipuja dan dipuji. Apasa tak lagi diperhitungkan, apalagi aku dan abangku.
Aku tak tahan lagi, kuputuskan untuk kuliah di Pulau Jawa.
Topic
#fiksifemina


