“Jika tak sedang dalam perjalanan melamar gadis yang kucintai, aku akan jatuh cinta padamu.”
“Ke Samarinda?”
Aku menoleh ke arah suara, lelaki berkulit sawo matang dengan rambut ikal yang duduk di sebelahku, sejak satu jam yang lalu. Dia adalah orang kedua yang duduk di bangku di sampingku. Seingatku, dia menumpangi bus ini dari Kota Tanjung. Sebelumnya, selama beberapa jam, ia sempat duduk di bangku plastik yang diletakkan di lorong bus. Pria itu akhirnya meminta izin untuk duduk di sampingku setelah dilihatnya rekan sebangkuku sebelumnya turun di Tanah Grogot.
Kupalingkan sejenak wajahku ke arah lelaki tersebut. Wajahnya tampak remang-remang di bawah minimnya cahaya dalam bus yang kami tumpangi. Berdasarkan penampilannya saat beralih ke kursi di sebelahku tadi, kuperkirakan pria itu berusia awal 30-an, beberapa tahun lebih tua dariku.
“Ke Tenggarong,” jawabku pendek. Sambil tak lupa memberikan sedikit senyuman. Sekadar basa-basi tentunya.
“Oo...kerja?” lelaki itu bertanya kembali.
“Enggak, mau mengunjungi teman di sana.”
“Sendirian?”
Aku mengangguk.
“Sudah biasa. Sejak kuliah sudah sering bolak-balik Banjarmasin – Samarinda,” paparku kemudian.
“Oo….”
“Anda sendiri? Mau ke Samarinda?” aku balik bertanya.
Laki-laki itu menggeleng. “Balikpapan,” ujarnya. Ini menjelaskan gaya bicaranya yang tak berlogat Tanjung ataupun daerah Hulu Sungai lainnya.
“Kerja atau….”
“Pulang kampung. Tapi kali ini ada tujuan khusus.”
Spontan alisku terangkat mendengar jawaban lelaki itu. Reaksi khasku, jika penasaran dengan ucapan seseorang.
“Saya mau melamar gadis yang saya cintai di Balikpapan,” laki-laki itu meneruskan kata-katanya. Ada senyum sumringah di wajahnya saat mengatakan tujuan perjalanannya itu.
“Ooo…. Kalau begitu selamat, ya. Calon istrinya pasti sedang menanti dengan harap-harap cemas,” kataku, tanpa berusaha menyembunyikan kelegaanku. Laki-laki itu tersenyum tipis mendengar kata-kataku.
“Eh, turun, yuk. Kayaknya antreannya bakal panjang,” katanya kemudian. Rupanya bus yang kami tumpangi sudah tiba di Penajam. Kulihat beberapa bus dan mobil roda empat tampak berbaris teratur di depan bus yang kami tumpangi. Jam di tangan kiriku kini menunjukkan pukul 3 dini hari.
***
Perjalanan ini sudah kurencanakan sejak lama. Kurang lebih dua tahun yang lalu. “Satu saat nanti aku akan berkunjung ke rumahmu,” begitu janjiku pada Rida, sahabat yang akan kukunjungi saat itu. Kala itu aku tak bisa memastikan tanggal kedatanganku ke kampung halamannya. Yang bisa kukatakan, aku akan ke Tenggarong, dan itu pasti akan terjadi.Menempuh perjalanan seorang diri selama berbelas jam seperti sekarang sebenarnya merupakan pengalaman baru buatku. Bahkan, kalau mau jujur, ini adalah pertama kalinya aku ke luar kota tanpa didampingi teman atau kerabat.
Lalu, mengapa aku berbohong kepada laki-laki di sampingku tadi? Tentu saja untuk berjaga-jaga. Sebelum berangkat aku sudah diwanti-wanti agar tidak terlihat seperti orang yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh. “Berbohonglah sedikit,” begitu pesan Mila kepadaku sebelum berangkat. Pesan yang kuamini karena aku tahu kejahatan bisa terjadi kapan saja.
Perjalanan darat dari Banjarmasin menuju Samarinda umumnya memakan waktu lebih dari 12 jam. Jika ingin cepat, bisa menggunakan pesawat jurusan Banjarmasin – Balikpapan, yang kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju Samarinda. Namun, tentu saja hal itu lebih memakan biaya.
Aku sendiri awalnya tak berencana pergi sendirian. Mila, orang yang rencananya akan menemaniku berangkat menuju Samarinda, mendadak membatalkan rencananya. Sementara, tiket untukku sudah telanjur dibeli. Akhirnya, daripada rugi, kuputuskan untuk berangkat sendiri.
Untungnya perjalanan kali ini tak cukup menyulitkan. Tak seperti biasanya, aku tak mengalami mabuk, yang biasanya menyiksaku tiap kali melakukan perjalanan darat. Nyaris 8 jam duduk di bangku urutan ketiga sebelah kanan, tak sekali pun perutku dilanda rasa mual. Aku bahkan masih sempat menikmati pemandangan di sekitarku.
***
“Kami bertemu di feri, persis seperti sekarang. Saat itu dia masih kuliah dan aku dalam perjalanan ke Tanjung untuk bekerja,” lelaki itu bercerita kepadaku tentang gadis yang akan dilamarnya. Saat ini kami sudah berada di dalam feri, menikmati udara pagi yang mulai berembus. Seiring dengan munculnya mentari, aku pun bisa memandang wajahnya dengan lebih jelas. Rambut ikalnya dipotong pendek, sorot matanya teduh, rahangnya kokoh dan hidungnya mancung. Guratan sepanjang sekitar 2 senti terlihat samar di pipi kanannya. Ciri khas yang menarik.
“Jadi kalian sudah berpacaran selama berapa tahun?” tanyaku kemudian.
“Tidak. Kami tidak berpacaran. Kami hanya berteman,” jawabnya santai.
Aku mengerutkan kening.
“Jadi gadis itu tidak tahu Anda akan melamarnya?”
“Tidak. Dia hanya tahu aku akan datang hari ini.”
“Wow. Cukup nekat. Tidak takut ditolak?”
“Ditolak atau diterima. Setidaknya aku sudah mencoba.”
Ada jeda pendek seusai laki-laki itu mengucapkan kalimatnya. Pikiranku sibuk mencerna perkataannya tersebut, membayangkan bagaimana jika diriku berada di posisi si gadis. Apakah aku akan menerima lamaran tiba-tiba dari seorang laki-laki yang statusnya adalah temanku?
Pertama-tama, mari kita pertimbangkan penampilan fisik laki-laki di sampingku ini. Tingginya kutaksir 170 sentimeter, jelas masuk tipe kesukaanku. Lalu wajahnya? Seperti yang kubilang tadi, dia menarik. Tidak terlalu tampan, namun cukup nyaman untuk dilihat. Apalagi jika dia sudah memamerkan susunan giginya yang rapi. Kurasa senyum itulah yang menjadi daya tarik utamanya.
Lalu, bagaimana dengan sikap? Sepanjang perkenalan kami selama beberapa jam terakhir, aku bisa menyimpulkan bahwa dia lelaki yang cukup sopan. Tanpa diminta, dia menunggu saat aku masih mengantre salat Subuh di musala feri. Dia sendiri saat itu sudah melaksanakan kewajibannya. Tutur katanya halus dan sopan, plus enak diajak bicara. Buktinya, baru beberapa jam kenal dengannya, aku sudah merasa sangat akrab, seolah kami sudah berteman cukup lama.
Dengan kesan pertama yang cukup bagus ini, kurasa aku –yang membayangkan diri sebagai gadis yang akan dilamarnya- akan memberi jawaban ‘ya’ atas lamarannya. Tentunya tidak mungkin mengetahui baik tidaknya seseorang hanya dari beberapa jam pembicaraan. Namun, bukankah kesan pertama itu terkadang menentukan segalanya? Setidaknya jika seseorang meninggalkan kesan baik pada pertemuan pertamanya, keberadaannya akan lebih mudah diterima.
Lalu, bagaimana dengan status teman yang sudah telanjur melekat di antara ‘kami’? Yah, kurasa itu takkan menjadi masalah. Saif Ali Khan, pemeran Rohit Patel dalam Kal Ho Naa Ho, mengucapkan kalimat yang sangat indah pada Preity Zinta yang berperan sebagai Naina, lawan mainnya di film itu. Kurang lebih seperti ini, “Cinta itu diawali dengan persahabatan, dan diakhiri dengan persahabatan. Tinggal bagaimana kita mengisi di tengah-tengahnya.”
Selama beberapa tahun terakhir aku sudah menemui begitu banyak pasangan yang dulunya adalah sahabat, lalu tiba-tiba datang undangan atas nama mereka berdua. Jadi, kurasa bukan hal yang aneh, jika kita menikah dengan sahabat kita sendiri.
Tapi, kurasa aku melupakan sesuatu.
“Kenapa tidak mengajaknya pacaran dulu?” tanyaku kemudian.
Mendengar pertanyaanku, laki-laki itu lagi-lagi memamerkan senyum indahnya.
“Aku tak pernah tertarik untuk berpacaran. Seorang pria sejati akan melamar orang yang dicintainya, itu adalah prinsipku.”
“Tapi, bukankah dengan pacaran kau bisa lebih mengenal calon istrimu?”
“Tidak selalu. Temanku berpacaran selama lima tahun dengan istrinya sebelum akhirnya menikah. Kau tahu apa yang diucapkannya seminggu setelah mereka menikah? ‘Astaga aku baru tahu kalau dia tak suka makan telur itik,’ begitu katanya.”
Spontan aku tertawa mendengar cerita laki-laki ini. Ekspresinya saat mengucapkan kembali kata-kata temannya sungguh lucu. Lagi-lagi aku menemukan nilai lebih kenalanku ini.
“Dan jangan lupa kami sudah berteman selama beberapa tahun. Kurasa itu sudah cukup untuk meyakinkanku,” lanjutnya.
Aku mengangguk setuju.
“Bagaimana denganmu sendiri?”
Aku terkejut dengan pertanyaan spontan darinya.
“Maksudnya?”
“Maksudku kau sendiri, apakah sudah menikah?” laki-laki itu memperjelas pertanyaannya.
“Oh. Kurasa, jika aku sudah menikah, aku tak mungkin berada di feri ini berdua denganmu,” jawabku, sambil tersenyum.
“Ha…ha…ha…. Benar juga. Berapa usiamu?”
“27”
“Kau tahu? Dalam film-film, biasanya kondisi seperti ini dilanjutkan dengan saling jatuh cintanya tokoh pria dan tokoh wanita. Kurasa, jika aku tak sedang dalam perjalanan melamar gadis yang kucintai, aku akan jatuh cinta padamu.”
Aku terkejut mendengar kata-katanya kali ini. Ini sungguh di luar dugaan. Bagaimana mungkin dia bisa berbicara seperti itu kepada perempuan yang baru beberapa jam dikenalnya dalam perjalanan? Dipikirnya ini adegan film?
“Ha…ha…ha…. Aku hanya bercanda. Jangan terlalu dianggap serius,” ujarnya, ketika menyadari aku terdiam selama beberapa menit.
“Padahal, aku hampir saja berkata hal yang sama. Jika saja kau tidak dalam perjalanan melamar gadis yang kau cintai, aku pasti jatuh cinta padamu,” balasku akhirnya sambil tertawa.
“Kau bercanda, bukan?” tanyanya kemudian.
“Tidak. Aku serius,” jawabku, sambil memasang tampang superserius.
Kami terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa bersama-sama.
***
“Nah, aku sudah sampai di tujuanku. Sekarang waktunya kau melanjutkan perjalanan,” kata laki-laki itu, ketika bus yang kami tumpangi mulai memasuki terminal Balikpapan. Dia kemudian merapikan pakaiannya, dan mengambil sebuah tas besar yang sebelumnya diletakkan di kabin di atas kepala kami. Kulihat beberapa penumpang lain pun mulai sibuk mempersiapkan diri mereka untuk turun dari bus. “Sepertinya setelah ini kau takkan mendapatkan rekan pengganti lagi. Jangan merasa kesepian, ok?” sambungnya kemudian.
Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa. Kurasa aku juga akan tidur setelah ini,” jawabku.
“Baiklah kalau begitu. Senang sekali bisa berkenalan dan berbicang denganmu,” katanya, sambil mengulurkan tangan.
“Senang juga bisa berkenalan denganmu. Semoga sukses dengan lamarannya,” jawabku, sambil menyambut uluran tangannya.
Usai salam perpisahan itu, laki-laki itu pun beranjak dari sisiku. Tak ada tukar-menukar nomor telepon genggam. Bahkan, kami tak sempat menanyakan nama masing-masing. Dia telah tiba di tempat tujuannya, sedangkan aku, masih harus menempuh beberapa jam lagi untuk tiba di tujuanku. Tepat saat bus mulai berjalan sebuah pesan masuk ke telepon genggamku.
Ami, sudah sampai mana?
Begitu isi pesan itu. Dari Mila rupanya.
Balikpapan. Kalau sudah sampai Samarinda kukabari lagi.
Dengan cepat kuketik balasan untuk pesan singkat tersebut. Sesudahnya, telepon genggam tersebut kumasukkan kembali ke dalam tas. Hari ini, dua minggu sebelum hari pernikahanku. Kuharap ibu dan keluargaku tak terlalu panik ketika mengetahui putri mereka pergi ke luar kota menjelang hari pernikahannya.
Antung Apriana


