Fiction
Cerpen: 3 Wanita, 3 Pemakaman
24 Nov 2017
Lima tahun lalu, beberapa bulan setelah Ibu meninggal, aku memutuskan untuk menjual rumah kami. Ketika sedang menyortir barang-barang, aku menemukan kalung itu masih teronggok di sudut lemari. Seharusnya aku meninggalkan benda itu begitu saja atau membuangnya di tempat sampah. Bukan mengirimnya kepada Gendhis tanpa identitas. Hanya karena namanya diawali huruf G.
Sekarang aku tahu apa yang membuat Ganis terlihat terluka tadi malam. Ia melihat kalung itu melingkar di leher Gendhis.
“Aku masih sanggup membagi Papi dengan Mami. Tapi tidak dengan wanita lain. Harusnya ia tahu aku benci diduakan.”
Aku menatap Ganis dengan mual. Mulutku terasa kering ketika sebuah kalimat terus terulang di kepalaku. Jangan sampai Ganis tahu. Om Djito tidak pernah berkata, “Jangan sampai istriku tahu.”
“Now she can have him all she likes,” gumam Ganis lirih.
Sedetik kemudian ia beranjak berdiri dan tiba-tiba saja terlihat ringan dan cerah.
“Sama-sama pergi dengan belladonna, seperti Romeo dan Juliet. Romantis sekali, bukan?”
Aku masih berusaha memahami kalimatnya barusan ketika ia merapikan gaun putihnya dan berkata, “Batalkan pesawatmu. Ada satu pemakaman lagi yang harus kita hadiri.”
Air mata membuat siluet Ganis yang menjauh tampak buram. Seharusnya aku mengatakan sesuatu. Namun, aku hanya duduk menggigil. Salatiga tidak pernah terasa sedingin ini. (f)
Topic
#fiksifemina, #cerpen
event
recommended


