Salatiga tak lagi sedingin yang kuingat. Begitu turun dari taksi, peluhku langsung bercucuran. Sebuah bangunan yang kusam dan muram berdiri di depanku. Aku membetulkan tali tasku untuk kesekian kalinya ketika menyusuri kamar-kamar yang berjejer rapi di sisi kiri. Sejujurnya, aku tidak ingin bertemu dengan Ganis. Aku hanya perlu mengambil sebuah gambar dengan ponselku, lalu mengirimkannya dengan sebuah ucapan belasungkawa. Itu jauh lebih sederhana. Itu jauh lebih…
Kereta pikiranku berhenti ketika aku melihat sebuah pigura foto yang diapit dua buah lilin besar. Sepasang mata di foto itu memaku kakiku pada titik di mana mereka berpijak, membuatku menjadi gadis berusia tujuh belas tahun lagi. Hingga seseorang memanggilku.
“Manik?”
Ganis berjalan menghampiriku. Kecuali rambut yang kini berwarna cokelat, ia masih sama seperti yang dulu. Mulutku membuka dan menutup berusaha mengatakan sesuatu. Namun, semua kalimat yang ada di ujung lidahku terasa salah. Akhirnya aku hanya mengulurkan tangan dan mengucapkan turut berduka.
Aku tak bisa menahan hela napas lega ketika Ganis memberi tahu bahwa peti sudah ditutup. Tidak dapat kubayangkan rasanya harus menuang minyak sambil menatap wajah itu sekali lagi. Di depan peti putih itu aku menunduk. Aku tidak sedang berdoa untuk jenazah di dalamnya. Aku berdoa untuk keberuntunganku malam ini.
“Kamu kedinginan?” tanya Ganis, begitu aku membuka mata.
Dengan wajah bingung aku menggeleng.
“Tanganmu bergetar dari tadi,” lanjutnya.
Aku menatap tanganku sendiri dengan ngeri. Sejak kapan mereka bergerak seperti itu?
“Aku ambilkan teh hangat. ”Ganis berdiri tanpa menunggu jawabanku.
Masih bossy dan dominan seperti yang dulu.
Ganis kembali sambil membawa dua cangkir yang tampak mengepul. Aku menerima satu yang disodorkan padaku. Ketika kupegang, cangkir itu ikut bergetar hingga isinya nyaris tumpah. Ganis terlihat akan mengatakan sesuatu ketika pintu terbuka dan seraut wajah familiar menyembul di baliknya.
Entah bagaimana Gendhis bisa langsung melihat kami di antara sekian banyak tamu. Mungkin karena ia mengenakan sepatu berhak tinggi di atas sepasang kaki yang sudah jenjang itu.
“I’m so sorry, Dear,” bisiknya, sambil memeluk Ganis.
Ganis menggumamkan terima kasih. Kemudian Gendhis berpaling padaku.
“Kamu datang juga.” Gendhis mendekapku erat. “Bahkan lebih cepat dariku. I miss you so much.”
Topic
#fiksifemina, #cerpen


