True Story
Tiga Peluru Merobek Tubuh Suamiku

3 Mar 2016


 
TIGA HARI TIDAK BANGUN
“Nyawa saya seperti melayang saat melihat wajah suami yang sudah sangat pucat. Kesadarannya sudah mulai hilang karena kehilangan darah yang begitu banyak.” tutur Rina. Ia tiba tepat saat suaminya bersiap masuk ke ruang operasi. Ia paham bahwa mendampingi seorang polisi, ia harus siap dengan risiko terburuk seperti ini. Tetapi, baginya, masa-masa itu datang terlalu cepat. Bahkan, mungkin  ia tak akan pernah siap!

“Pada waktu itu saya berusaha mati-matian menahan cucuran air mata. Saya harus tegar di hadapan suami dan anak-anak. Mereka harus dikuatkan,” kenangnya, sambil menatap Budiono yang pada saat wawancara duduk bersisian dengannya.

Operasi yang dilakukan pada tengah hari itu berjalan begitu lambat. “Saat-saat itu menjadi penantian terpanjang dalam hidup saya,” ujar Rina, yang berusaha menepis bayang maut sang suami lewat untaian doa tak putus. Dua peluru menembus bagian kanan perut dan satu peluru menembus dada kanan suaminya. Bisakah suaminya bertahan?

Menjelang magrib, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Dadanya berdebar kencang saat melihat tim medis berjalan keluar. Selamatkah dia, atau ia harus pulang berkabung duka? “Tenang Ibu. Operasi berjalan lancar.” Ucapan ketua tim dokter dari RSPAD ini berhasil mengangkat ‘sumpalan’ yang menyesaki dada dan tenggorokannya.

Dokter mengatakan bahwa peluru itu sedikit mengenai paru bagian kanan, sehingga bagian dada kanan bawah harus dijahit. Peluru juga menembus usus. Sehingga, tim medis harus melakukan operasi di bagian perut untuk memotong sekitar 4 cm bagian ususnya. “Sejauh ini kondisi Bapak cukup sehat dan kuat. Tapi, kita lihat saja perkembangannya,” ujar dokter itu, menguatkan hati Rina.
Baru kemudian Rina mengetahui, bahwa maut sempat ‘menyapa’ Budiono. Sewaktu tiba di UGD RSPAD, alat monitor detak jantung (elektrokardiografi) yang dipasangkan di tubuh Budiono sempat berubah menjadi garis lurus, diikuti nada tiiiiit panjang. Kondisi tubuh Budiono yang sudah kehilangan banyak darah agaknya jadi pemicu.

Tiga peluru yang berdesing menembus tubuhnya itu meninggalkan tiga lubang yang terus mengucurkan darah. Membuatnya kehilangan kesadaran, hingga jantungnya pun sempat berhenti berdetak. Kondisi ini membuat tim dokter kalang kabut berusaha membangkitkannya lagi dengan alat pacu jantung. Sekali, dua kali  entakan, denyut jantung belum kembali. Dokter terus mencoba. Tepat    ketiga kalinya, monitor denyut jantung kembali menampilkan grafik. Mukjizat ilahi membawa Budiono kembali!

Namun, kegentaran kembali merajai Rina saat suaminya itu tidak kunjung membuka mata setelah operasi. Rupanya, tim dokter RSPAD berkeputusan untuk ‘menidurkan’ Budiono selama beberapa hari sebagai bagian dari upaya pemulihan. “Harapannya, dengan cara ini suami saya bisa beristirahat tanpa gangguan,” terang Rina, tentang keputusan dokter waktu itu.

Peluru memang hanya sedikit mencederai paru-paru kanan Budiono, tapi dada kanannya harus dijahit sepanjang 10 cm untuk menutup lukanya. Sementara itu dokter harus melakukan 18 jahitan untuk menutup luka setelah pemotongan ususnya. Jahitan ini membujur sepanjang 20 cm dari garis perut atas hingga ke bawah. Namun, yang paling dikhawatirkan saat itu adalah trauma penembakan jarak dekat yang akan dialami oleh Budiono. Sehingga, membuat tubuhnya berada dalam ketenangan sangat membantu proses pemulihan.
           
Di hari keempat setelah operasi, tepatnya Minggu, 17 Januari 2016, baru pelan-pelan Budiono dapat membuka matanya. “Bahagia tak terhingga saya bisa kembali melihat wajah istri dan kedua anak saya, Nur Fitri Azzahra (14) dan Fadil. Mereka penyemangat hidup saya. Mereka pula sumber kekuatan saya untuk terus bertahan dalam tugas dan menjalankan amanah sebagai polisi,” ujar Budiono, dengan mata berkaca-kaca.
           
Menurut Rina, masa pemulihan kondisi tubuh suaminya terhitung cepat. Suaminya hanya menjalani rawat inap di rumah sakit selama 12 hari. Setelah itu mereka diminta kontrol seminggu sekali. Luka jahitan menutup dengan cepat tanpa infeksi. Suaminya sempat mengalami kesulitan napas dan batuk yang mengeluarkan darah, tapi tidak mengkhawatirkan. “Darah yang ikut keluar bersama dahak itu merupakan darah sisa operasi. Bukan akibat infeksi,” jelas Rina, mengulang penjelasan dokter.

Dalam masa pemulihan, Rina sering memanjakan suaminya dengan olahan ikan gabus atau ikan patin yang direbus atau dipindang. “Ikan ini disarankan banyak orang karena memiliki lemak baik dan protein yang sangat bagus untuk pemulihan luka. Dan ternyata benar,” ungkap Rina, yang ingin agar pria yang dicintainya itu lekas pulih.
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?