MELANJUTKAN HIDUP
Sudah 1,5 bulan Budiono beristirahat. Tiga lubang di bagian punggung yang ditembus peluru sudah tertutup sempurna. Luka jahitan di perut dan dadanya pun telah mengering. “Saya seperti diberi hidup baru,” ujar Budiono. Musibah ini bahkan membuatnya berhenti merokok. Sebelumnya, ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok sehari.
“Sempat mencoba, tapi asap rokok itu membuat napas saya tidak nyaman. Mudah-mudahan seterusnya saya tidak tergoda lagi merokok,” harapnya, sungguh-sungguh. Tentang bobot tubuh yang melorot nyaris 10 kg, Budiono malah mensyukurinya. “Jadi tidak buncit lagi. Tubuh rasanya lebih ringan. Saya akan berusaha untuk mempertahankannya,” ujarnya senang. Tak hanya itu, mulai dari pimpinan POLRI, tim dokter di RSPAD, hingga teman-teman yang sewaktu ia sekolah dulu lama tak bersua, memberikan perhatian mereka kepada keluarganya.
Komitmen dan keberanian Budiono dalam menjalankan tugas baru-baru ini menuai penghargaan pin emas dan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepolisian Republik Indonesia. Dari pangkat semula Aiptu, kini Budiono menjadi Ajun Inspektur Dua (Aipda). “Ini berkah luar biasa bagi keluarga kami. Karena kenaikan pangkat itu tidak mudah,” ujarnya, penuh syukur.
Saat ini, kantornya memberikan cuti tanpa batas untuk proses pemulihan. Namun, pria itu berharap bisa kembali bertugas di bulan Maret. “Saya kangen dengan kesibukan pekerjaan,” ujarnya, tertawa. Bagaimana dengan trauma psikis, apakah kejadian tragis itu membuatnya kapok?
“Tidak,” jawab Budiono, tegas. Sejak pendidikan sebagai bintara Polri di Mojokerto tahun 1993, ia sudah menyadari inilah risiko sebagai penegak hukum. “Risiko dalam bertugas itu tidak ada yang manis. Ibarat berjalan dengan rumah sakit di sisi kanan, dan kuburan di sisi kiri,” ujarnya, bertekad untuk lebih waspada di kemudian hari.



