True Story
Tiga Peluru Merobek Tubuh Suamiku

3 Mar 2016


Sekujur darah di tubuhnya terkesiap menerima foto sosok dan pesan pendek di ponselnya. Hanya sekilas Rina Perdina (41) melihat sosok berlumuran darah itu, tapi ia langsung mengenalinya sebagai Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Budiono, suaminya! Sementara itu, di ruang UGD, tim medis berusaha mengembalikan jantung Budiono yang berhenti memompa. Pria itu banyak kehilangan darah!

Tiga peluru tanpa ampun menembus dada Budiono. Bersitatap dengan maut dalam jarak dekat sama sekali tak ada dalam agenda kerjanya di Kamis 14 Januari 2016 itu. Segala sesuatunya seperti berjalan dalam gerak lambat:  kekacauan yang terjadi, bunyi letusan tembakan, dan sosok teroris yang memandangnya dengan wajah dingin. Kepada femina, Rina dan Budiono mengisahkan sejarah yang menggoreskan trauma dalam kehidupan mereka itu.
 
BERSITATAP DENGAN MAUT
“Bu Rina, ini sepertinya suamimu?” Seorang teman, yang sesama istri polisi, mengirim pesan dan foto lewat jalur What’sApp (WA), Kamis (14/1), menjelang siang. Meski panik, ia langsung menelepon suaminya itu. Hanya nada panggil yang terdengar. Perasaannya makin tidak keruan. Informasi tentang rumah sakit tempat suaminya dibawa pun masih simpang siur.

Meski belum tahu akan menuju ke mana, Rina segera mengemas beberapa baju ganti dan mengajak putra bungsunya, Muhammad Fadillah Akbar (10). Ia pergi dengan diantar mobil tetangganya. Sedih dan panik ia rasakan sepanjang jalan. Tak ada firasat atau perasaan aneh, saat ia melepaskan suaminya berangkat bertugas subuh itu. Kini, ia melihat tubuh pria yang dicintainya sudah berlumuran darah.

Pagi itu, usai salat Subuh, seperti biasa, Rina melepas suaminya untuk bertugas. Paling lambat, pukul 05:15 WIB Budiono telah meninggalkan kawasan rumahnya di Munjul, Jakarta Timur. Sebab, pukul 7 pagi ia harus apel pagi di kantornya di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. “Kebiasaan ini rutin dijalaninya sejak pertama kali bertugas di Polres Jakarta Pusat, sejak 20 tahun silam. Suami berangkat selalu ontime. Karena, lebih dari waktu itu, ia akan terjebak kemacetan. Maklum, rumah kami di paling ujung timur Jakarta,” ujar Rina.

Sesampai di kantor, Budiono menyampaikan kabar kepada istrinya, bahwa hari itu ia bertugas menjadi pasukan cadangan di balai kota DKI Jakarta. Kabarnya, akan ada kerumunan massa di area tersebut. Namun, pada pukul 10:00 WIB, Budiono mendapat info bahwa terjadi ledakan di depan gedung pertokoan Sarinah, Thamrin.

Mengingat posisi yang berdekatan, Budiono bergegas ke tempat kejadian untuk mengecek lokasi sekaligus membantu pengamanan. “Memang sudah tugas kami untuk mengecek lokasi, sekaligus membantu pengamanan,” ujar pria yang telah menekuni profesinya sejak tahun 2000 ini. Saat tiba, ledakan sudah beberapa saat terjadi. Namun, info bahwa pelaku yang bersenjata masih berkeliaran belum tersampaikan. Tanpa curiga, ia memarkir motornya di samping mobil Kepala Biro Operasi Polres Jakarta Pusat yang berhenti di tengah jalan. Kunci motor belum sempat dicabut, dan helm di kepalanya masih menempel ketika seorang pelaku teroris tanpa basa-basi mendekati dirinya dan langsung melontarkan tembakan.

“Meski terhalang helm, saya dan pelaku sempat bertatapan selama beberapa detik. Wajah dan matanya benar-benar dingin,” ujar Budiono. Khawatir momen ini akan membuat teroris memberondongkan peluru lebih lanjut, ia menguatkan tubuhnya yang sebetulnya sudah limbung, berjalan menjauh. Dengan tubuh bercucuran darah dan rasa panas seperti terbakar api, Budiono berhasil menyeret tubuhnya sejauh 100 meter dari lokasi.

“Kira-kira di trotoar depan Hotel Sari Pan Pacific, saya tak kuat lagi. Saya sandarkan tubuh di pohon dekat situ. Di saat inilah ada yang melihat keadaan saya yang tertembak dan berteriak mencarikan pertolongan,” lanjutnya, bercerita. Di saat genting ini tak disangka, mobil Kepala Polres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Pandowo, melintas. “Beliau yang langsung mengenali, sehingga saya segera dilarikan ke rumah sakit,” ujar Budiono, tentang kesigapan atasannya di saat genting itu. 

Untungnya Tuhan masih melindungi Budiono. Tak satu pun dari tiga peluru yang dimuntahkan oleh teroris itu yang mengenai organ vitalnya. Namun, mengingat kembali kejadian melalui foto-foto mencekam yang beredar, ia sangat bersyukur mendapat kesempatan kedua dalam hidup. Ia bahkan merasa beruntung ditembak dalam jarak dekat, sehingga peluru langsung menembus tubuh.
“Jika sampai bersarang di badan, bisa dipastikan saya tidak akan selamat. Sebab, pecahan proyektil itu akan menghancurkan dan menginfeksi tubuh,” lanjut Budiono, penuh syukur.
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?