Profile
Febriany Eddy: Melihat Kesempatan di Setiap Tantangan
9 Apr 2021

Foto: Dok. Pribadi
Perbedaan Itu Perlu
Dalam menjalani peran sebagai pemimpin, Febri menyadari bahwa cara pria dan wanita dalam memandang dan menyelesaikan masalah itu berbeda. Ia menggarisbawahi, yang paling utama adalah menyadari perbedaan itu, lalu belajar menghargai dan menerima perbedaan, agar bisa menjalin dialog dan mengambil keputusan dengan lebih baik.
Wanita yang mendapatkan penghargaan Asian Superwomen for Sustainability (2019) ini mengamati, pria lebih action oriented, sementara wanita memerlukan waktu lebih lama dalam mengambil keputusan karena melihat aspek yang lebih kompleks. Akibatnya, ketegangan pun terjadi. Namun, ia belajar menghargai bahwa caranya bukan cara terbaik. Pada kondisi tertentu ketika keputusan harus diambil dengan cepat, ia harus menerima bahwa itu adalah jalan terbaik.
Vale Global memiliki motto: Difference Makes All the Difference. “Motto ini mengandung makna bahwa perbedaan adalah sumber kekuatan. Dilihat dari konteks bisnis, dunia dalam kondisi VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Untuk mempromosikan pemikiran inovatif dan collective intelligent, perbedaan itu perlu. Kalau tidak ada perbedaan persepsi dan pandangan, solusi yang terpikirkan hanya itu-itu saja. Padahal, di dunia yang VUCA ini kita perlu solusi berbeda,” kata Febri, yang mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia.
Mengenai collective intelligent, Febri menyebutkan bahwa mengakui perbedaan saja tidak cukup. Perusahaan harus menciptakan lingkungan yang inklusif. Artinya, di lingkungan ini setiap pendapat dihargai, setiap orang bisa menjadi diri sendiri, bisa bebas menyampaikan aspirasi, mampu mendengarkan perspektif yang berbeda, dan kemudian berdialog untuk mencari solusi yang disepakati bersama.
“Pada masa-masa awal berkarier, saya pikir saya harus jadi seperti pria dan kemudian saya memang mengkondisikan diri menjadi seperti pria agar bisa survive. Ketika di lapangan, saya bicara dengan keras, lugas, dan selalu mengutamakan action. Namun, saya kemudian menyadari bahwa tidak bisa demikian. Justru perbedaan itulah yang dicari. Saya harus menjadi diri sendiri. Bagaimana seorang manusia bisa memberikan potensi terbaiknya, jika dia tidak bisa diberi ruang untuk menjadi diri sendiri?,” ungkap Febri.
Ia bercerita, pada 2020 Vale Global mencanangkan komitmen Diversity and Inclusion. Program ini bukan diadakan karena ekspektasi sosial, melainkan karena mereka percaya bahwa ada value luar biasa besar yang bisa diciptakan dari komitmen ini.
Meski sangat sibuk sebagai pimpinan perusahaan, Febri tak melupakan pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak. Ia sendiri meyakini bahwa tidak ada yang namanya work-life balance. Yang ada adalah keharmonisan antara kehidupan profesional dan personal.
Sejak awal ia dan sang suami, Leith, bersepakat bahwa anak dan rumah adalah tanggung jawab bersama. “Kalau saya sibuk, dia yang akan mengurus rumah dan anak dengan senang hati, dan sebaliknya. Kalau sama-sama sibuk, kami bicarakan siapa yang perlu mengalah,” kata Febri, yang sangat bersyukur karena suaminya sangat pengertian dan sangat mendukung kariernya. (f)
Penulis: Veronica Wahyuningkintarsih (Kontributor - Jakarta)
Baca Juga:
Respek, Kunci Sukses Komunikasi Kepemimpinan
Dewi Nur Aisyah, Pakar Epidemologi Moderen Wanita Satu-Satunya yang Dimiliki Indonesia
Prof. Dr-Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng Profesor Energi yang Senang Lobbying
Topic
#profil, #tokoh, #wanitakarier
event
recommended


