
Foto: Dok. Pribadi
Membuka Ruang Dialog
Bicara tentang kepemimpinannya, Febri yang sebelumnya memegang kursi Chief Finance Officer senang berdiskusi dengan timnya di bagian keuangan dan supply chain. Tim tersebut sudah mengenalnya selama kurang lebih lima tahun. Ia bertanya, “Menurut kalian, apa langkah yang harus saya ambil agar bisa menjadi pemimpin yang lebih berhasil. Beri saya feedback.”
Ada anggota tim yang memberi masukan bahwa cara berkomunikasi di luar finance akan jauh berbeda. Ia sebutkan, di divisi keuangan, orang yang bisa bekerja sama dengan Febri adalah orang yang detail, eager, dan disiplin. Sebagai pemimpin ia harus merangkul semua orang dengan karakter beragam.
Feedback tersebut membuat Febri yang fasih berbahasa Mandarin ini memutuskan untuk mengikuti coaching. “Banyak hal baru yang saya pelajari. Salah satunya tentang personal branding. Dulu tidak pernah ada effort yang disengaja untuk membangun personal branding. Sekarang saya meyakini pentingnya hal tersebut, sehingga perlu effort khusus untuk membentuk dan menjaganya. Sangat powerful jika bisa dilakukan dengan sustainable,” kata Febri, yang menjalani coaching secara online dan tatap muka bersama Erwin Parengkuan dari TALKINC.
Selain belajar menghadapi berbagai tipe orang, ia juga belajar tentang bagaimana menyampaikan pesan dengan motivasi dan inspirasi, belajar bahwa 60% komunikasi datang dari bahasa tubuh dan gestur, belajar tentang pentingnya raut wajah dan intonasi suara. Hal-hal yang sebenarnya sudah ia ketahui, tapi tidak disadari secara penuh.
“Yang paling penting adalah self awareness. Saya selalu mencoba meluangkan waktu beberapa saat untuk mengevaluasi diri. Ketika diam dan merefleksikan hari-hari yang baru dilalui, saya mulai melihat hal-hal yang tidak terlihat sebelumnya, menyadari yang tidak disadari. Bagi saya, evaluasi itu penting agar kita menjadi lebih baik.”
Komunikasi secara online, yang sekarang menjadi sebuah kebiasaan baru, membawa tantangan tersendiri baginya. Jika biasanya dapat langsung melihat perubahan suasana hati atau sikap timnya, kini ia perlu lebih sensitif dan mawas dalam membaca raut wajah dan menyimak tekanan suara. Tak hanya mengamati, ia juga tak enggan bertanya. Saat awal ketika pandemi baru menerpa Indonesia dan semua orang disergap rasa khawatir di tengah ketidakpastian, ia mengadakan semacam sesi sharing bertema ‘How Do You Feel?’.
“Tanpa agenda apa pun, sejumlah leader perusahaan saya kumpulkan. Ketika itu saya hanya bertanya, “Bagaimana perasaan Anda saat ini?” Mereka lalu bercerita, mengeluarkan unek-unek, sampai ada yang menangis. Saya mendengarkan apa yang mengganggu pikiran mereka, mencari tahu apa yang bisa dilakukan perusahaan untuk meringankan beban mereka. Dialog ini ternyata sangat powerful. Bahkan orang yang keras ketika di lapangan pun bisa terlihat rapuh,” tutur Febri, yang mendapatkan apresiasi luar biasa besar karena membuka dialog semacam itu.
Karena situasi pandemi sudah mulai lebih terkendali, frekuensi dialog itu tidak lagi setinggi dulu. Di samping itu, perusahaan juga telah membangun fondasi dengan cara menyiapkan berbagai program untuk meningkatkan kesehatan mental, termasuk menyediakan psikolog.
Memimpin perusahaan dari jarak jauh sebetulnya sudah biasa dilakukan oleh Febri sebelum pandemi. Ia di Jakarta, timnya di Sorowako. Ia memegang prinsip: you cannot be everywhere but communication can be anywhere. Secara fisik ia tidak bisa hadir setiap saat, tapi komunikasi selalu ada setiap saat. Baginya yang penting adalah continuous engagement.
“Komunikasi secara online membuka kesempatan besar. Dulu saya harus merencanakan kapan harus pergi ke Sorowako dan tempat-tempat lain. Sekarang saya bisa terkoneksi dengan tim di Sorowako kapan saja. Yang saya lakukan adalah meningkatkan frekuensi dialog, agar tim selalu merasakan keberadaan saya, tidak merasa ditinggalkan,” kata ibu dari Kyra (7) dan Evan (4,5) ini.
Ketika berkomunikasi dengan generasi milenial, Febri memiliki strategi tersendiri. Pertama, mendengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa agenda. Ia mengakui, hal ini tidak mudah. Sering kali orang mendengarkan tapi sebetulnya tujuannya adalah meyakinkan dia untuk melakukan sesuatu. Kedua, memberi ruang untuk menyampaikan aspirasi.
Baca Selanjutnya: Perbedaan Itu Perlu
Topic
#profil, #tokoh, #wanitakarier


