
Foto: Dok. Femina Media
Yang Penting Mencatat Semuanya
Pencatatan keuangan sering dipandang sebagai hal yang ribet dan memusingkan. Sehingga akhirnya ditunda-tunda. Hal ini diamini oleh sebagian besar peserta workshop. Caecilia misalnya, wanita pelari yang mulai berbisnis jus lemon ini mengaku pencatatan keuangannya amburadul. “Sudah nggak terlalu paham bagaimana caranya, juga nggak rajin sih...,” ujarnya sambil tertawa malu.
Karena itu, Ario, demikian panggilan akrab Arresto Ario, pun memberikan pemahaman mengapa pencatatan keuangan itu penting. “Yang penting adalah bagaimana kita membuat sesederhana mungkin tapi berguna buat kita. Kalau ditanya, apakah bisnis kita sudah untung? Jangan sampai bingung menjawabnya dan malah bertanya balik...untung ngga yaaa,” ujar Ario, disambut tawa peserta.
Berikut ini yang harus diperhatikan saat bicara laporan keuangan usaha:
1/ Pencatatan Transaksi: Ini adalah hal yang paling sederhana, mencatat. Apa yang dicatat? Pengeluaran dan Pemasukan (Penjualan). Semua yang berkaitan dengan transaksi dicatat.
Di Penjualan, yang dicatat ada penjualan tanggal berapa, siapa customer-nya, bayar lunas atau hutang, juga keterangannya apa: misalnya cicilan 3 bulan.
“Pencatatan juga membuat kita mengetahui siapakah pelanggan kita dan apa kesukaan masing-masing. Misalnya, si Ibu A paling suka hijab warna kuning. Kalau ada barang baru, kita bisa akan menawarkan kepada dia. Seorang pelanggan kalau ditawari secara personal pasti akan senang,” kata Ario.

Setelah melakukan pencatatan, kita akan bisa membuat anggaran. Dulu ketika kita memulai usaha, kita sering tidak tahu berapa biaya yang akan dikeluarkan tiap bulan? Tapi dengan mencatat kita jadi tahu, misalnya fluktuasi yang terjadi tiap bulan. Dengan pencatatan yang rutin, kita bisa membuat anggaran.
“Dengan memiliki anggaran, kita bisa melakukan efisiensi. Misalnya, kita jadi tahu kalau biaya transpor makin mahal. Dengan melihat hal ini, maka harus dilihat misalnya tidak belanja tiap hari,” urai Ario.
2/ Laporan laba rugi
Kalau punya usaha, pasti ingin untung. Tapi dengan melihat pencatatan ternyata rugi, lihat catatan apakah ada yang salah. Oh ternyata, belanja modalya terlalu besar. Atau biaya gaji staf terlalu banyak, karena sudah menggaji 4 orang sementara hasil penjualan belum sampai ke total gaji pegawai. Mungkin kita tidak perlu 4 orang, tapi cukup 2 orang saja.
Dengan demikian, memiliki anggaran bisa bikin prioritas. Semua pencatatan yang kita buat itu kemudian digunakan untuk membuat laporan laba rugi. Kalau untung lanjutkan, kalau rugi, ganti strategi.
3/ Neraca
Apa saja yang ada dalam neraca? aset, hutang, kekayaan. Intinya, neraca untuk mengetahui kita punya kekayaan itu berapa.
Selain itu, Ario juga menekankan pentingnya pemilik bisnis untuk menggaji diri sendiri. Hal ini yang ternyata belum banyak dilakukan oleh peserta. Ketika diminta tunjuk tangan siapa yang sudah melakukannya, dari 100-an peserta, ternyata tak sampai 10 orang yang tunjuk tangan.
Menurut Ario, menggaji diri sendiri, selain memang hak kita yang sudah bekerja siang malam bahkan kadang lupa hari libur, juga membuat seorang pengusaha mengetahui kondisi sebenarnya keuangan bisnisnya. Bisa saja, ketika gaji pemilik tidak dibujetkan, maka bisnis terlihat menguntungkan, padahal ketika jumlah gaji dimasukkan ke dalam pencatatan, ternyata impas saja dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
“Saya tidak bisa memberikan secara pasti berapa jumlah gaji seorang pemilik, saran saya sebaiknya kita banyak-banyak survei ke luar kira-kira berapa gaji yang layak untuk kriteria pekerjaan yang Anda lakukan, ujar Ario.
Topic
#wanwir, #wanwirfemina, #femina47, #september2019


