Toko roti ini tampak sepi. Beberapa orang memang hanya membeli dan membawa pulang belanjaannya, tak banyak yang memilih makan di tempat ini. Aku memesan sebuah frapuccino dan roti cokelat keju berbentuk memanjang, lalu membawanya ke kursi pojok dekat jendela dan pintu masuk. Tak lama seorang pria besar masuk. Dengan gesit ia membuka pintu masuk lebar-lebar lalu pergi lagi.
Aku mengintip dari jendela di sampingku dan mendapatinya sedang mengangkat bagian depan kursi roda yang diduduki seorang wanita tua. Seorang wanita berbaju putih mengangkat bagian belakang kursi roda itu. Mereka bekerja sama menaikkan kursi roda itu dari tangga lalu masuk ke toko dengan wajah lega. Setelah mereka memilih tempat duduk di seberang mejaku, pria besar itu mendekatkan mulutnya ke telinga wanita tua dan mulai membisikkan sesuatu.
Wanita itu menjawab dan kemudian lelaki itu pergi ke kasir, meninggalkan wanita tua itu dengan wanita berbaju putih. Wanita itu terlihat masih muda, mungkin umurnya baru 27 tahun. Sekilas kudengar suara wanita tua itu. Suaranya terkadang tinggi, terkadang melemah. Terbata-bata dan tidak terlalu jelas maksudnya. Tapi wanita di depannya menanggapi dengan sabar. Sesekali ia menyeka liur di tepi bibir wanita tua itu dengan tisu.
Wanita tua itu juga tersenyum menanggapi obrolan wanita muda di depannya. Tangannya menggenggam tangan wanita muda itu seakan tak mau berpisah barang sejenak. Kini aku tahu alis seperti apa yang cocok untuk Ibu Anike. Alis memanjang dan sedikit turun di ujungnya. Wanita itu butuh belas kasihan suaminya karena yang ia miliki hanya wajahnya. (f)
***
Tahniah
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#fiksifemina


