Fiction
Cerpen: Sulam Alis

11 Jun 2017



Aku mengambil ponsel yang ia sodorkan. Sebuah foto keluarga terpampang. Di sebalah kanan Ibu Anike ada pria besar duduk setengah jongkok. Tangannya memeluk wanita tua yang duduk di kursi roda. Wajah pria itu semringah. Kedua orang ini pasti suami dan mama mertua Ibu Anike. Di depan mama mertuanya, terdapat dua anak lelaki remaja duduk bersila. Kutaksir mereka anak-anak Ibu Anike.

Dan ada seorang wanita muda dengan senyum malu-malu berdiri di sebelah kiri kursi roda mama mertuanya. Dress putih selutut dengan dua kantong besar menggambarkan jelas siapa dirinya. Ibu Anike benar, penampilannya sangat biasa dan wajahnya kalah cantik dengan Ibu Anike. Tapi, bentuk alisnya melengkung indah. Membingkai wajahnya yang berahang kotak menjadi lembut dan teduh dipandang.

“Itu kenapa saya mau sulam alis, Mbak. Saya mau ketika suami saya bangun di pagi hari, saya sudah cantik. Jadi, dia sadar kalau saya jauh lebih baik dari suster itu,” katanya sambil menunduk. Air mukanya seketika berubah. Tak ada lagi intonasi yang menggebu dan memaksa. Ia justru terdengar seperti orang yang lelah.

Aku mengembalikan ponselnya dan mengelus punggung tangannya. Kujanjikan besok pagi jam 9 ia akan langsung masuk ke ruangan dan alisnya akan kupermak sebaik mungkin. Ibu Anike tersenyum kecil. Ia pun berjanji akan membayar dengan harga tinggi. Aku terkekeh. Meski ia tidak membayar, aku tidak keberatan karena ceritanya menggerakkanku untuk melakukannya tanpa imbalan. Kami berdua keluar dari studio bersama dan berpisah di parkiran.

Aku pulang menuju daerah Daan Mogot dengan mobil pribadiku. Jalanan menjelang magrib di Jalan Panjang memang tidak pernah menyenangkan. Macet, terutama di depan gedung salah satu perusahaan televisi berbayar. Tapi justru kali ini aku menikmatinya karena aku jadi punya waktu untuk memikirkan Ibu Anike dan alisnya yang akan kusulam esok. Alisnya yang hanya setengah dari bentuk alis pada umumnya menjadi keuntungan dan kerugian bagiku.

Alis yang biasa ia buat memang bagus, tapi tetap saja aku merasa bentuknya tidak cocok dengan wajahnya. Tapi, jika bentuknya diubah, Ibu Anike belum tentu suka dan percaya diri dengan hasilnya karena ia terbiasa dengan alis buatannya. Sebenarnya itu bukan masalah besar. Lambat laun ia pasti akan menyukainya. Yang terpenting orang lain tidak merasa aneh melihat wajahnya dan dapat membaca karakter Ibu Anike hanya dengan melihat mukanya.

Tapi, bentuk seperti apa yang cocok? Hhh... akhirnya aku merasakan ketakutan dalam melakukan pekerjaan ini. Aku menepikan mobilku di sebuah toko roti di perempatan jalan. Secangkir kopi. Ya, aku butuh secangkir kopi sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?