Dari kartu registrasi kudapati namanya Anike Sudradjat. Wanita ini masih cukup muda, umurnya 35 tahun, hanya terpaut empat tahun lebih tua dariku. Sepertinya ia sudah banyak melakukan perubahan pada wajahnya. Kulit di sekitar pipinya terangkat tinggi sehingga pipinya terlihat tirus. Barisan giginya putih bersih. Bibirnya merona merah, kurasa beberapa hari yang lalu ia baru sulam bibir. Dan soal alisnya, ia menggambarnya dengan sempurna. Arsirannya tidak terlalu tebal, warnanya bergradasi, dan lengkungannya tidak terlalu tegas. Ia cantik sekali, tapi seperti ada yang salah.
“Ibu Anike pekerjaannya apa?”
“Ibu rumah tangga.”
“Sehari-hari jarang dandan yang full make up, ya?”
“Tiap hari saya dandan, tapi paling hanya pakai pensil alis, maskara, bedak, dan blush on. Soalnya, kalau enggak gitu nanti jadi pucet banget. Kan jadi enggak enak dilihat suami, Mbak,” ceritanya tanpa diminta. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu mulai menggeser dan menyentuh layarnya. “Lihat Mbak, ini saya kalau enggak dandan sama sekali. Alis saya botak.”
Ibu Anike menunjukkan salah satu fotonya yang sedang duduk di halaman dengan latar kolam renang. Sosoknya di foto itu sedang menggunakan bikini model two piece warna hitam, membiarkan wajahnya tanpa polesan make up sama sekali. Aku dapat melihat bercak-bercak kehitaman di bawah matanya dan tentu, kedua alisnya yang hanya setengah dan tipis itu. Jujur saja, aku takjub dengan keahliannya menggambar alis yang natural tanpa panduan dari bentuk asli alisnya. Tapi, aku masih merasa alisnya kurang cocok dengan wajahnya.
“Saya sudah dandan tiap hari saja, suami masih lirik yang lain, Mbak.” Curahan hati Ibu Anike membuat saya tersadar, saya sudah terlalu lama memandangi fotonya.
“Oh, ya?”
“Ya, Mbak Nin. Suami saya itu kayaknya punya hubungan spesial dengan suster mamanya. Tiap hari ia pasti menelepon si suster.”
“Dia nelepon di depan Ibu?”
“Dulu iya, Mbak. Terus saya marahin, soalnya dia sering banget nelepon orang itu. Memang, sih, obrolannya soal Mama, tapi kan saya enggak suka. Feeling saya enggak enak. Perempuan kan feeling-nya jarang salah ya, Mbak. Sekarang si Mas, sih, sudah enggak pernah nelepon lagi, tapi enggak tahu, deh, kalau di belakang. Saya, sih, yakin dia masih berhubungan.”
Aku mengangguk-angguk. Entah untuk apa, karena sebenarnya aku tidak sepenuhnya setuju.
“Kalau gitu, minta ibu mertua tinggal di rumah saja, Bu. Biar Ibu yang urus, jadi kan enggak perlu jasa suster lagi dan suami Ibu tidak ada alasan untuk berhubungan lagi dengan dia,” kataku, berusaha bijak. Namun, wanita di depanku ini malah tertawa puas.
“Mbak Nin, aku senang, sih, kalau Mama di rumah. Tapi, kalau ada Mama di rumah, aku jadi tidak bisa melakukan hal lain selain mengurus Mama. Mama harus makan makanan yang lembek, tapi aku dan anak-anakku enggak suka. Jadi harus masak beberapa menu, kan jadi menghabiskan banyak waktu. Yang harusnya aku sudah selesai masak, makan, dan pergi antar anak sekolah, arisan atau bahkan ke salon, jadi terhambat. Mama juga harus dimandiin dan diganti popoknya tiap beberapa jam sekali. Itu artinya aku memang harus stand by di rumah. Aku enggak bisa Mbak, aku kan punya kehidupan sendiri.”
“Lagi pula, Mbak, laki-laki kalau sudah suka sama perempuan lain ya susah balikinnya. Kecuali di depan dia ada perempuan yang lebih dari perempuan yang lagi disukanya itu.”
“Memang susternya cantik, Bu?”
“Biasa aja, sih, Mbak. Tapi, alisnya itu, lho, Mbak. On fleek! Perfect. Padahal enggak pakai produk buat alis, Mbak,” jawab Ibu Anike menggebu-gebu. Aku terperangah. Wanita ini sirik karena sepasang alis? Lalu ia kembali menatap telepon genggamnya dan mulai menggesernya. “Ini orangnya, lihat, deh.”
Topic
#fiksifemina


