Aku bangun esok harinya karena sebuah suara asing. Bukan dering teleponku, bukan pula dering alarmku. Butuh beberapa detik sebelum aku sadar bahwa aku tidak sedang berada di kamar kosku. Butuh beberapa detik lebih lama lagi untuk menyadari bahwa yang berbunyi adalah telepon di samping tempat tidurku.
“Ya?” suaraku terdengar serak dan pecah.
“Selamat pagi, Ibu Manik. Maaf menelepon pagi-pagi. Ada seorang tamu yang menunggu di lobi dan memaksa untuk bertemu dengan Ibu. Namanya Ibu Ganis.”
Aku langsung terduduk. Ganis?
Aku meraih ponselku untuk mengecek waktu, tapi benda itu mati.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku.
“Pukul 5.30 pagi, Bu,” jawab suara di seberang dengan sopan.
Aku mengucek mataku. Pemakaman baru akan dilaksanakan pukul sembilan.
“Tolong bilang pada Bu Ganis, saya akan turun sepuluh menit lagi.”
Aku tidak mandi. Sepuluh menit tidak cukup untuk itu. Aku hanya mencuci muka dan berganti baju. Aku menemukan Ganis duduk di tepi kolam renang. Sudah mandi dan berias.
“Kamu baik-baik saja, Nis?” tanyaku khawatir.
Ia mengangguk. “Belum pernah merasa sebaik ini,” jawabnya pelan.
“Mau bicara di resto, sambil makan atau minum sesuatu?” tawarku.
“No, thanks. Enggak biasa sarapan. Aku cuma perlu bicara dengan seseorang. Sebentar saja.”
Seandainya aku mandi pagi ini, atau bangun lebih awal, maka intuisiku tidak akan setumpul ini. Aku akan tahu ada sesuatu yang salah. Kunjungan yang terlalu pagi biasanya begitu.
“Kamu tahu kenapa aku pulang ke Salatiga?” Ganis bertanya sambil memandang air.
“Untuk pemakaman ayahmu?”
Ganis menggeleng. “Untuk memotong simpul terakhir yang mengikatku pada masa lalu.”
Tengkukku meremang. Itu juga yang membuatku pulang.
“Psikiater yang kutemui beberapa bulan terakhir yang menyarankan itu. Jika tidak, ia khawatir aku tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan lelaki mana pun.”
Aku menggumamkan ‘oh’ sambil menunggu ia melanjutkan ceritanya.
“Kamu tahu kalau papiku berselingkuh?”
Untuk pertanyaan kali ini Ganis menatapku lekat. Paru-paruku mendadak menolak bekerja. Aku megap-megap mencari udara. Namun, rupanya Ganis tidak membutuhkan jawaban.
“Bertahun-tahun aku dihantui oleh pertanyaan ‘siapa’. Berkali-kali kutanyakan kepada Papi, tapi ia tak pernah memberiku sebuah nama. Ia terus saja menyangkal.”
“Itukah sebab orang tuamu bercerai?” tanyaku dengan tenggorokan tercekat.
Sudut bibir Ganis terangkat. “Bukan. Ada alasan yang lain lagi.”
Senyumkah itu yang barusan kulihat?
“Ia menyangkal sampai maut menjemputnya. Kupikir aku tak akan pernah tahu kebenarannya.”
Ia menengadah melihat langit. “Siapa sangka aku mendapatkan jawabannya kemarin.”
Topic
#fiksifemina, #cerpen


