True Story
Cerita Sebelah Telinga Monica Petra Kurnia

23 May 2016


           
Meski sudah bisa menerima diri sendiri, saya masih didera penasaran tentang kelainan telinga yang saya alami. Keingintahuan saya terjawab saat menonton tayangan  Oprah Show di televisi yang membahas tentang daun telinga buatan. Ia menghadirkan remaja perempuan yang baru saja menjalani pemasangan daun telinga plastik. Anak itu menunjukkan foto dirinya sebelum operasi. Saya langsung terpana. Rasanya seperti sedang melihat diri sendiri.

Perempuan di Oprah Show itu rupanya memiliki kelainan microtia. Apa yang terjadi pada saya adalah kelainan. Saya menyandang microtia unilateral grade 3 sisi kanan. Microtia grade 3 adalah microtia klasik. Telinga hanya tersusun dari kulit dan daun telinga yang tidak sempurna pada bagian bawahnya. Umumnya kategori ini disertai atresia atau ketiadaan lubang telinga.

Akibat dari kelainan ini, wajah jadi tidak simetris. Beruntung kelainan ini tidak terlalu kentara pada wajah saya. Hanya, bila tersenyum, senyum saya tidak simetris, menyungging ke atas. Dari situ saya tahu alasan saya tidak suka difoto, terutama yang mengharuskan saya untuk tersenyum. Karena senyum saya memang terlihat aneh.
           
Saya pun mulai aktif mencari komunitas penyandang microtia. Setelah sekian lama mencari, akhirnya saya menemukan komunitas para orang tua yang memiliki anak microtia di jejaring sosial. Di komunitas itu saya berbagi pengalaman dan perasaan penderita microtia. Ada perasaan tenang mengetahui bahwa saya tidak sendiri, ada banyak anak yang menyandang kelainan yang sama. Di komunitas ini kami saling menguatkan.
           
Saya mengatakan kepada teman-teman di komunitas bahwa penyandang microtia bisa hidup normal, seperti saya. Saya berhasil lulus S-1 Ekonomi Pembangunan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Lulus kuliah pada tahun 2010, saya bekerja sebagai asisten direksi  di sebuah superstore elektronik di Semarang. Setelah itu, saya bekerja di Production House Dreamlight World Media, sebagai penulis naskah. Saya juga pernah mengajar sebagai guru untuk mata pelajaran menulis naskah drama di SMK  Visi Media Indonesia.
           
Kehidupan cinta saya juga berjalan normal. Saya tahu microtia adalah kelemahan saya, namun bukan berarti saya tidak layak untuk dicintai. Saya akan jujur tentang keadaan saya kepada pria yang mendekati dan ingin menjalin hubungan   serius. Saya pernah menjalin cinta dengan beberapa pria. Hubungan terakhir saya, kandas dua tahun lalu. Usia hubungan kami hanya tujuh bulan. Tepatnya, September tahun lalu, kami  memutuskan untuk berpisah. Padahal, kami mempunyai rencana akan menikah tahun ini.

Keputusan kami berpisah bukan karena dia tidak bisa menerima kelemahan saya, tapi karena ketidakcocokan di antara kami. Di masa depan, saya ingin menikahi seorang pria yang memiliki kesabaran, tidak temperamen dan bisa memprioritaskan pasangannya.
           
Saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi pada hidup saya. Saya tidak menyesali menjadi salah satu penyandang microtia. Saya juga tidak menyesali harus mengalami masa kecil yang pahit. Saya tahu Tuhan mencintai saya dan memberi saya banyak kesempatan indah. Saya tidak ingin melakukan operasi microtia untuk mendapatkan telinga baru demi kepentingan estetika. Saya ingin tetap seperti ini, menjadi Monica, penyandang microtia unilateral, agar saya selalu mengingat Tuhan dan rencana-rencana indah-Nya untuk saya. Karena rencana Tuhan belum selesai….
 
Ika Nurul Syifa (Kontributor – Jakarta)
 
 

Monica Petra
Penulis Masterpiece of Love, He Loves Her Till The End. 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?