True Story
Cerita Sebelah Telinga Monica Petra Kurnia

23 May 2016


 
MULAI MENGENAL DIRI
Saya ingat, ketika masih kecil, saya dibawa ke dokter. Namanya dr. Daniel. Setelah mengamati wajah saya dengan saksama, ia mengatakan bahwa saya punya kelebihan. “Kamu terlahir istimewa,” katanya.
         
Saya tidak tahu, apakah ucapannya hanya untuk menghibur Mama atau benar-benar tulus dari hatinya. Pastinya, ucapannya jadi pemacu semangat yang luar biasa bagi saya dan Mama.

Ucapan dr. Daniel yang menyejukkan tertanam kuat di kepala saya. Ketika saya merasa terpuruk, saya akan mengingat ucapan dr. Daniel. Namun, adakalanya, saya merasa sedih dan tidak merasa istimewa. Saya sering menangis sendiri dan seakan menyalahkan Tuhan mengapa ia menciptakan saya berbeda dari orang lain. Beruntung ada Mama, yang tidak pernah bosan mengucapkan kalimat itu kepada saya. Ya, saya berusaha menyadari bahwa saya terlahir istimewa dengan keadaan ini.
           
Saya pernah menjalani operasi, namun bukan operasi untuk memperbaiki bentuk telinga. Orang tua saya tidak punya biaya untuk mengubah telinga saya yang aneh menjadi normal. Dari informasi yang saya dapat, butuh biaya yang sangat besar, mencapai puluhan juta rupiah untuk membuat telinga buatan. Operasi yang saya jalani sebelum masuk sekolah dasar hanya untuk mengangkat daging kecil yang tumbuh di pipi kanan.
           
Hidup saya berubah saat kelas tiga SD. Saya mulai bisa membaca dan menulis dengan lancar. Saya berhasil masuk sepuluh besar di kelas. Semangat belajar saya jadi makin terpacu. Saya sangat bersyukur, meski hanya satu telinga   yang berfungsi maksimal, saya bisa menerima pelajaran dengan baik. Guru-guru berbicara dengan artikulasi yang sangat jelas, sehingga saya bisa membaca gerak bibir mereka.


Kendala yang saya hadapi adalah ketika ada murid lain yang bicara. Saya harus berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan dari guru. Bagi orang lain mungkin itu hal mudah, tapi bagi saya itu sangat melelahkan. Saya harus berkonsentrasi pada banyak suara untuk menyimak apa yang mereka bicarakan.
           
Sejalan dengan prestasi yang saya raih, perlahan-lahan rasa percaya diri saya mulai tumbuh. Saya yang sejak kecil hidup dengan ejekan teman-teman, berhasil membuktikan diri saya berharga dan bisa meraih prestasi tinggi. Tuhan memberi kesempatan indah, yang tidak pernah diperkirakan orang lain, termasuk orang tua saya.
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?