Saya begitu malu dan sedih. Dalam hati saya selalu bertanya, mengapa mereka memperlakukan saya seperti itu? Mengapa orang-orang dewasa yang berada di dalam mobil itu seakan membiarkan dan membenarkan perbuatan anak-anak itu? Apakah karena saya berbeda, lantas mereka boleh menghina saya sesuka hati?
Dalam isak tangis, saya selalu berdoa agar ada orang yang menghentikan perlakuan mereka kepada saya. Sayang, itu tidak pernah terjadi. Mereka hanya diam dan membiarkan.
Dari anak yang periang, saya berubah menjadi anak pendiam dan selalu murung. Saya menarik diri dari lingkungan. Saya menjadi anak yang introver, minder, takut kepada orang, dan tidak berani bicara dan mendekati orang lain. Memasuki SD, saya makin menyadari bahwa telinga kanan saya memang berbeda. Lebih kecil dan menutup sebelah.
Saya jadi tahu mengapa kalau tidur saya lebih suka miring ke kiri, rupanya karena yang kanan tertutup. Kalau menghadap ke kanan, masih ada suara yang membuat saya tidak bisa tidur. Sehingga, untuk meredam suara yang saya dengar, saya menutupi telinga dengan bantal.
Jadi, saya pikir, oh mungkin karena telinganya berbeda. Ibarat pengeras suara, telinga saya masih mono, sedangkan pada orang normal sudah stereo.
Namun, saya tidak tahu apakah itu normal atau tidak. Beruntung saya perempuan dan mempunyai rambut panjang, sehingga saya bisa menutup telinga mungil saya dengan rambut.
Saya akan merasa malu setengah mati dan terancam ketika telinga mungil saya terlihat. Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa mungkin ketakutan itu yang membuat saya tidak suka mengikuti kegiatan di luar ruang, seperti olahraga, senam, dan bersepeda.
Saya juga benci dengan sesi pembuatan pasfoto di sekolah, karena mengharuskan saya menyelipkan rambut di belakang telinga, sehingga telinga kanan saya yang berbeda akan terlihat. Rasanya seperti sedang ditelanjangi. Saya menangis tiap kali ada pembuatan pasfoto. Saya selalu khawatir orang lain akan membicarakan telinga kecil saya yang aneh dan sikap mereka kepada saya jadi berbeda.
Kekhawatiran saya beralasan, karena beberapa kali, seperti itulah yang terjadi. Saya tidak tahan melihat orang lain berbisik-bisik, menyindir-nyindir dan bergunjing tentang telinga kecil saya. Saya tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada Mama dan Papa, semuanya saya telan sendiri. Saya tidak ingin membuat mereka khawatir. Saya juga merasa, orang tua tidak akan menanggapi keluhan saya karena mereka menganggap tidak ada masalah pada diri saya.



