
Saya tahu saya berbeda. Tapi, bukan berarti saya tidak sempurna. Penggalan kalimat tersebut adalah sekelumit isi curahan hati Monica Petra Kurnia (27) yang tercetak dalam buku Masterpiece of Love.
Lewat tulisan, Monica mendapat kekuatan untuk menghadapi dunia yang dengan mudah mengadili orang hanya dengan sekilas pandang. Terutama, ketika mereka melihat bagian dari wajahnya yang menurut sebagian orang tidak sempurna.
Kepada femina, anak ketiga dari pasangan Harry Mus Priatna (66) dan Sri Yuniah Indianti (65) ini menuturkan kisah hidupnya sebagai penyandang microtia unilateral grade 3 sejak lahir.
BENCI PAS FOTO
Saya terlahir berbeda. Memiliki telinga sisi kanan yang hanya tersusun dari kulit dan lobulus yang tidak sempurna pada bagian bawahnya. Bentuknya seperti tonjolan kecil dengan tekstur serupa cuilan kulit jeruk.
Awalnya saya tidak menyadari perbedaan ini. Saya merasa sama seperti orang lain. Saya normal dan baik-baik saja. Saya bisa melakukan aktivitas seperti halnya anak-anak sebaya lainnya. Apalagi orang tua juga tidak pernah memberi tahu apa-apa tentang kondisi saya yang sebenarnya.
Saya mulai menyadari diri berbeda ketika masuk sekolah taman kanak-kanak. Saya ingat hari pertama masuk sekolah. Saya senang sekali akhirnya bisa sekolah seperti kakak-kakak saya, Yohana Prita Amelia (32) dan Helena Rosa Paramita (29). Saya membayangkan sekolah yang menyenangkan, penuh tawa dan teman-teman. Namun, yang saya temukan adalah sebaliknya.
Saya tidak menyukai sekolah. Saya merasa sekolah bukan tempat untuk saya. Bukan karena saya tidak suka belajar, tapi saya merasa asing dan sangat tertekan di sana. Makanya, saya tidak mau ditinggal sendirian. Saya meminta Mama untuk selalu menunggui saya selama jam pelajaran berlangsung. Namun, karena kesibukan lain, tidak selamanya Mama bisa menemani saya di sekolah.
Selama berada di sekolah, saya memilih bermain sendiri di kelas. Padahal, sebelumnya saya adalah anak yang ceria. Saya suka berteman dan bergaul. Namun, teman-teman menjauhi saya. Mereka kerap mengejek, mengganggu, dan mengolok-olok karena daging kecil yang menonjol di pipi kanan saya.
“Hei, Mintil!” begitu mereka selalu memanggilku.
Panggilan itu sangat menyakitkan. Daging kecil di pipi saya dijadikan sebagai bahan olokan. Saya tahu harusnya saya tidak menangis. Saya seharusnya bisa menahan diri atau malah bersyukur karena mereka tidak melihat telinga kanan saya.
Bagian tersulit dari masa-masa TK adalah saat berada di dalam mobil antar- jemput. Mobil merah itu menampung 15 orang, termasuk para ibu dan baby sitter yang menemani beberapa anak kecil. Tiap mobil itu datang, saya merasa kemalangan sedang merayap menghampiri. Saya tidak suka suara bising di dalam mobil.
Bagi anak-anak lain, perjalanan pulang-pergi sekolah itu menyenangkan, tapi bagi saya, itu adalah siksaan yang tiada akhir. Dada saya berdebar hebat sekali tiap kali melangkahkan kaki ke dalam mobil itu. Saya tidak tahan dengan ejekan dan olok-olokan teman-teman, tapi saya juga tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangis. Ya, menangis menjadi senjata andalan menghadapi mereka.



