
Foto: Freepik
Bahan Sutra dan Tiga Lapis untuk Perlindungan Maksimal
Namun dengan masih tingginya kebutuhan tenaga medis akan masker N99, N95, dan masker medis, masker kain menjadi alternatif untuk digunakan oleh masyarakat umum. Saat ini, jenis masker kain bervariasi. Namun tidak semua masker kain dapat melindungi diri dengan maksimal, semua tergantung pada kualitas bahan yang digunakan. "Itu tergantung pada kualitasnya," kata Dr. Ramzi Asfour, seorang dokter penyakit menular di Marin County, California, kepada Business Insider.
"Jika Anda membuat masker kain dari seprai katun Mesir 600 benang, itu berbeda dengan membuatnya dari kaus murah yang tidak ditenun dengan sangat halus,” jelas Dr. Asfour.
Masker "hibrida" adalah pilihan masker rumahan yang paling aman. Dalam sebuah makalah yang dirilis peneliti di Inggris menyebutkan bahwa masker "hibrida" - menggabungkan dua lapisan kapas dengan 600 benang dengan bahan lain seperti sutra, sifon, atau flanel - menyaring lebih dari 80 persen partikel kecil (kurang dari 300 nanometer) dan lebih dari 90 persen partikel yang lebih besar (lebih besar dari 300 nanometer).
Para peneliti menemukan bahwa kombinasi katun dan sifon menawarkan perlindungan paling besar, diikuti oleh katun dan kain flanel, katun dan sutra, dan empat lapis sutra alami. Opsi ini bahkan disebut lebih baik dalam menyaring partikel kecil daripada masker N95, meskipun mereka tidak selalu lebih baik dalam menyaring partikel yang lebih besar. Tim juga menemukan bahwa dua lapis kapas 600 benang atau dua lapis sifon lebih baik dalam menyaring partikel kecil daripada masker bedah.
Sedangkan sebuah studi Universitas Illinois menemukan bahwa tiga lapis kemeja sutra atau kaus katun 100 persen sama protektifnya dengan masker kelas medis. Sutra khususnya memiliki sifat elektrostatis yang dapat membantu menjebak partikel virus yang lebih kecil.
Bahan terbaik lainnya sebagai alternatif untuk DIY masker adalah kantong atau filter pada mesin penyedot debu. Studi Journal of Hospital Infection menemukan bahwa kantong penyedot debu (atau filter penyedot debu yang dimasukkan ke dalam masker kain) mengurangi risiko infeksi sebesar 83 persen setelah 30 detik terpapar virus korona dan hingga 58 persen setelah 20 menit terpapar di lingkungan yang tercemar.
Kantong teh dan sarung bantal antimikroba (biasanya terbuat dari satin, sutra atau bambu) adalah alternatif terbaik berikutnya untuk masker kain atau masker rumahan. Menurut para peneliti, kantong teh yang ditenun dengan rapat mampu memberikan perlindungan, kata para peneliti.
WHO juga merekomendasikan agar masker kain memiliki tiga lapisan agar dapat memberikan perlindungan maksimal. Tiga lapisan tersebut terdiri dari lapisan dalam yang menyerap, lapisan tengah yang menyaring, dan lapisan luar yang terbuat dari bahan non-penyerap seperti poliester.
Itu sebabnya masker dengan bahan scuba belakangan dilarang untuk digunakan di tempat-tempat umum seperti transportasi umum dan rumah sakit, karena bahannya tipis dan tidak memiliki lapisan pelindung yang cukup untuk menangkal penggunanya terkontaminasi droplet.
Dalam siaran pers tentang masker kain yang diterima femina, dr. Reisa Brotoasmoro juga menekankan pentingnya masker kain memiliki tiga lapisan kain. "Lapisan pertama adalah lapisan kain hidrofilik, seperti katun yang dilapisi oleh lapisan yang bisa mendukung agar filtrasi lebih optimal. Bisa dari katun atau polyester. Kemudian lapisan ketiga, atau yang paling luar merupakan lapisan hidrofobik atau bersifat anti air, seperti terbuat dari polipropilen atau polyester," jelas dr. Reisa. .
Ia juga menjelaskan sebaiknya masker kain ini tidak digunakan lebih dari empat jam, dan apabila basah atau lembab haruslah langsung diganti. "Karena itu penggunaan penyimpanan serta pencucian masker pun harus tepat, agar awet dan dapat digunakan berulang kali," tuturnya.
Baca Selanjutnya: Ada Potensi Risiko di Balik Masker





