
Foto: Fotosearch
Saat ini banyak kota di dunia berlomba-lomba untuk menjadi smart city, kota yang semua sistem layanan tersedia. Jakarta belum sepenuhnya disebut smart city. Kenapa demikian? Karena smart people-nya belum terbangun dan sistem pelayanannya belum sepenuhnya siap dengan teknologi yang siap melayani. Menurut Yayat Supriatna, Ahli Tata Kota dan Staf Pengajar Planologi Universitas Trisakti, masih banyak yang lebih suka cara konvensional. Yayat menambahkan, Jakarta bisa menjadi kota pintar jika konsep pengembangannya terintegrasi, termasuk dalam hal transportasi. Ia menegaskan Jakarta harus memiliki transportasi publik yang baik.
“Bagaimanapun, mobil menjadi kendaraan utama sekarang, karena orang belum melihat adanya angkutan umum yang memadai. Tidak aman, tidak layak, waktunya juga tidak presisi sehingga orang cenderung memilih naik kendaraan pribadi. Kalau kendaraan pribadi terus bertambah dan jalan tidak dibangun-bangun, Jakarta sudah pasti makin macet,” ujarnya.
Ciri transportasi publik yang baik menurut Yayat harus memiliki standar pelayanan minimal, yaitu standar kecepatan kendaraan, berapa jarak antarkendaraan, pokoknya ada ketepatan dan kepastian. Haltenya pun harus bagus dan nyaman. “Tanpa itu, transportasi publik seperti apa pun akan sulit diandalkan untuk menjawab tantangan kebutuhan ke depan.” jelas Yayat, yang menyambut dengan optimistis pembangunan MRT yang akan dimulai dengan tujuh koridor.
Menurut Yayat, MRT akan menjadi tulang punggung transportasi publik di Jakarta karena kapasitas daya angkutnya dan kecepatan serta keamanan dalam perjalanannya. “MRT harus terintegrasi dengan angkutan lain supaya daya optimalnya tercapai. DKI juga akan membangun LRT (Light Rail Transit) dan BRT (Bus Rapid Transit) dalam kesatuan konsep pengembangan layanan transportasi yang nanti akan bersinergi dengan angkutan wilayah sekitar,” ujar Yayat yang menegaskan tidak ada solusi tunggal untuk mengatasi kemacetan karena semua aspek harus bersinergi antara tata ruang dan sistem transportasi.
Selain itu, tentu saja kemacetan akan berhasil diatasi bila ada kesadaran dari seluruh warga Jakarta untuk memiliki budaya kota. “Jangan berwacana untuk pindah ibu kota, tapi cobalah berpindah dari perilaku buruk kepada perilaku yang baik. Selama warga Jakarta masih parkir sesuka hati, melawan arus tanpa rasa bersalah, dan seenaknya berkendara di trotoar, usaha apa pun yang dilakukan pemerintah akan selalu gagal. Jadi, persoalan kita bukan hanya membangun fisik kota, tetapi juga manusianya,” tegas Yayat.
Hal ini pun disadari oleh Setiaji, Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City, yang mengatakan bahwa semua program Jakarta Smart City membutuhkan kepedulian masyarakat untuk bisa berhasil. “Jika melihat laporan dari Qlue, laporan terbanyak kedua adalah bentuk pelanggaran masyarakat yang tidak tertib membuang sampah sampai ngetem sembarangan,” keluhnya. Pelanggaran tersebut, menurut Setiaji, bisa dihilangkan dengan kesadaran. “Kepedulian atau partisipasi masyarakat juga ingin ditingkatkan melalui Jakarta Smart City, karena tujuan kami juga membentuk smart citizen,” katanya. (f)
Topic
#HUTJakarta




