Health & Diet
Kontroversi Terapi Hormon Osteoporosis

29 Jul 2017


Foto: 123RF
 
Osteoporosis menjadi salah satu penyakit berbahaya di Indonesia dengan angka kasus yang terus meningkat. Health Technology Assesment (HTA) memperkirakan bahwa di tahun 2020 jumlah kasus patah tulang akibat osteoporosis di Indonesia akan mencapai angka 426.300 (dari 227.850 kasus di tahun 2000). Wanita paling berisiko!
 
“Rokok, minuman beralkohol, atau bersoda, serta obat-obatan tadi mengganggu metabolisme tulang,” ujar dr. Siti Annisa Nuhonni, SpKFR(K), Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi Medik dari RS Medistra Setiabudi, Jakarta. Demikian juga jika Anda malas bergerak atau berjalan kaki dan tidak pernah olah raga. Semua kebiasaan buruk ini bisa membuat serangan ini datang lebih dini!
 
Serangan di usia muda juga bisa terjadi pada wanita yang mengalami menopause dini (amenorrhea). Produksi hormon estrogen turun drastis, yang berakibat pada turunnya aktivitas sel-sel yang bertugas membentuk tulang baru. Atau pada mereka yang sering mengonsumsi obat-obatan kortikosteroid, seperti obat hisap asma dalam jangka waktu panjang, atau mengonsumsi obat antikejang. Penderita hipertensi yang sering mengonsumsi obat diuretik juga rentan terhadap osteoporosis.
 
Melakukan pengecekan dini terhadap kondisi kepadatan tulang dengan bantuan alat Densitometer sangat disarankan bagi mereka yang merasa memiliki pola hidup yang tidak sehat, atau memiliki sejarah osteoporosis dalam keluarganya. Hasil diagnose Densitometer dilakukan dengan melihat nilai T. Apabila nilainya di atas -1, maka kepadatan tulang masih baik. Nilai T antara -1 dan -2,5 mulai menunjukkan adanya penipisan tulang. Nilai T kurang dari -2,5 artinya osteoporosis.
 
World Health Organization (WHO) dalam tata laksana mengatasi osteoporosis, menyarankan pilihan pengobatan bagi penyakit degeneratif ini, yaitu dengan menambah asupan kalsium, dan melakukan sulih hormon estrogen apabila diperlukan.
 
Cara sulih hormon estrogen cukup efektif menurunkan keluhan fisik paska menopause, dan meningkatkan kepadatan tulang hingga 5,5%. Namun, pada praktiknya, cara ini juga menimbulkan pro dan kontra. Isunya, terapi sulih hormon ini dapat memicu kanker payudara. Namun, untuk bisa menimbulkan risiko kanker butuh perjalanan waktu yang cukup lama, yaitu hingga puluhan tahun, dengan persentase kemungkinan yang sangat kecil.
 
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan banyaknya penelitian di dunia kesehatan, risiko ini bisa ditekan. Baru-baru ini peneliti telah menemukan fitoestrogen, yaitu senyawa mirip estrogen yang disintesis dari tanaman. Sehingga, sering disebut sebagai estrogen nabati. Meski kemampuannya dalam meningkatkan kepadatan tulang tidak setinggi estrogen, yaitu masih kurang dari 3%, tetap dari segi biaya jauh lebih murah, dan jauh lebih aman. (f)
 
 


Topic

#Osteoporosis

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?