Baru dua tahun ini mulai ramai. Aku melayani pesanan menjahit sekaligus menyediakan bahan. Pelangganku bisa memilih modelnya, dan aku akan mencarikan kain ke Pasar Mundu Malaysia.
“Wow, cantik-cantik.” Emilia melihat baju-baju di gantungan. Saat itu aku baru sadar ada orang lain di antara kami. “Oh, maaf, sampai lupa, kau…?”
“Abilio, Tante.” Kami berjabat tangan. “Oh, Tuhan, aku pangling.” “Beda ya, Ma? Main film dia.” Emilia kembali duduk di sampingku. Lalu dia bercerita tentang suasana di pengungsian, dan bagaimana dia memaksa papanya ke Atambua untuk mencariku.
“Ada titipan dari Papa.” Emilia membuka tasnya. Dadaku berdenyut. Aku tidak mengharapkan apa pun dari Faustino. Hidupku baik-baik saja tanpa lelaki itu.
“Ada kaset di dalam.” Emilia menyodorkan tape recorder kecil. “Tapi, sebelum Mama memutarnya, aku ingin tunjukkan sesuatu dulu. Bil, bisakah kau meninggalkan kami sebentar?”
“Tentu. Aku sudah tidak sabar ingin memotret pemandangan luar.”
Emilia tertawa.
"Bawakan aku foto yang banyak.”
Kami duduk berdua setelah kepergian Abilio. Carolin sibuk di dapur. Emilia mengambil ponsel, menyentuh layarnya, dan membiarkan di telapak tangannya.
“Pergilah. Dia tetap mamamu. Orang yang bisa mendiamkan tangismu saat kecil. Satu-satunya orang yang bisa memahamimu saat kau merajuk.”
Sekujur tubuhku kaku. Meski enam belas tahun tak mendengarnya, tetap saja aku mengenalinya. “Papa tidak ingin bertemu Mama?” “Keadaan tidak lagi sama, Emili.”
“Tapi, selama ini Papa tak pernah mencari pengganti Mama?”
“Itu bukan tujuan hidup Papa.”
Suara itu terdengar jelas dalam keheningan kami. “Papa masih mencintai Mama, bukan?” Aku menahan napas. “Untuk apa mempertahankan orang yang kita cintai, kalau ia tak bahagia bersama kita?”
Tanpa kuminta gulungan masa lalu menghantam ingatanku. Cinta. Bahagia. Lukaku memang sembuh seiring waktu. Kami melalui masa sulit untuk merekatkan retakan-retakan biduk rumah tangga. Saat layar kembali terkembang, aku hamil. Tuhan menghadiahi kami Carolin.
Hingga bertahun-tahun hidup kami kembali normal. Tetapi aku lupa bahwa waktu bisa membawa kembali
yang telah terjadi. Suatu malam, di tengah suasana Timor Timur yang tak menentu, Faustino mengatakan bahwa wanita yang tak ingin keketahui siapa namanya itu, ingin bertemu dengan Emilia.
Awalnya aku tidak masalah saat mengetahui mereka kembali bertemu dan menjalin komunikasi. Tidak masalah juga kalau Emilia bertemu dengan ibu kandungnya. Tetapi, kalimat Faustino yang mengatakan bahwa kami harus berlaku adil, bahwa selama ini kami telah memisahkan wanita itu dengan putrinya, bahwa Emilia berhak punya kehidupan yang normal, aku sungguh-sungguh tidak terima.
Apa maksudnya? Bagaimana yang terjadi sesungguhnya? Faustino yang membawa bayi itu, atau ibunya yang tak ingin merawatnya? Dan, tentang kehidupannya yang menderita karena tak bisa bersama putrinya, apakah Faustino pikir aku bahagia menerima semuanya?
Jadi, saat itu aku curiga, pertemuan mereka lebih dari sekadar pertemuan biasa. Tetapi, bisa jadi mereka mengulang masa lalu yang sama, dan aku tidak mau mendapat luka yang sama. Aku pun memilih pergi.
“Mama….” Emilia menyentuh lenganku. Aku tersenyum, meski pipiku terasa kaku. “Aku memahami rasa kehilangan Papa atas kepergian Mama. Papa bahkan meninggalkanmu dalam hidupnya. Berkali-kali kukatakan, aku siap jika dia menikah lagi. Tetapi, berkali-kali pula dia menolak.”
Emilia meremas tanganku.
“Karena cintaku pada Mama dan Papa sama besarnya, itu sebabnya aku mencari Mama. Juga Antoni dan Carolin.”
“Mama minta maaf. Karena keputusanku, kalian jadi terpisah satu sama lain.”
“Kita semua korban sejarah, Ma. Banyak juga yang mengalami nasib seperti kita. Terpisah karena pilihan. Bill juga, belum lama bertemu dengan keluarganya yang di Bandung.”
Topic
#fiksi, #fiksifemina, #novelet, #cerber


