Fiction
Novelet: Esperansa (2)

21 Jul 2018



Aku menatap Emilia yang gemetar. Genangan air di matanya siap tumpah. Aku meraih tangannya. “Emili.” Demi Tuhan, rasanya aku pun ikut membeku. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Faustino sebegitu pengecut hingga menyerahkan hal besar ini kepadaku. Berkali-kali aku menghela napas. Mungkin benar aku telah berdamai dengan masa lalu.

Aku menyebutnya, telah selesai dengan diriku sendiri. Bagaimanapun juga, aku menerimanya sebagai ujian yang harus aku jalani, yang pada akhirnya aku merasa kuat dan lapang saat semua kupasrahkan kepada Tuhan. Tetapi mungkin, ketika Faustino benar-benar menyadari kekeliruannya, tentu tidak mudah bagi lelaki itu melupakan begitu saja. Karena sudah pasti, perasaan bersalah akan tersandang di punggungnya. Ya, aku tahu dia berada di posisi sulit. Tetapi, saat ini tentu Emilia pihak yang paling merasakan sakit.

“Aku kira papamu sudah menceritakan semuanya,” kataku, hati-hati.

“Rahasia besar macam apa ini?” Tatapan Emilia menuntut jawaban.

“Ini yang kubilang bahwa kita harus menghadapinya dengan dewasa.”

Aku menggenggam tangannya. Lalu kuceritakan ketika pertama dia datang malam itu. Aku tidak mau menutupi apa pun, bahkan sakit hatiku. Meski pada akhirnya aku mencintainya. Menyayanginya seperti darah dagingku sendiri. Tetapi, semua belum usai, hingga sakit kedua yang menjadi sebab utama aku pergi.

Sebab, jika yang dimaksud Faustino kehidupan sempurna Emilia adalah saat dia tinggal dengan kedua orang tuanya, maka saat yang sama memang aku yang harus pergi. Kukatakan juga kepada Emilia bahwa aku sungguh sungguh tidak tahu siapa ibu kandungnya. Bahkan namanya.

Aku memang tidak ingin tahu dan tidak mau mencari tahu, sebab aku tak siap membenci. Cukup aku menerima Emilia hadir sebagai takdir yang aku sayangi. Ya, aku mengatakan semuanya, karena Emilia berhak tahu. Sebenarnya, kepada Antoni dan Carolin aku juga cerita.

Bukan aku ingin membagi sakit hati. Sekali lagi, anak anak berhak tahu, kenapa orang tua mengambil jalan
yang mungkin membuat mereka bertanya-tanya. Aku katakan kepada mereka bahwa aku tidak harus mendapat pembenaran atau simpati dari kisahku. Tentu saja aku tidak mengajak melakukan penghakiman.
Tetapi, aku ingin mereka mengambil pelajaran, bahwa dalam hidup ini, hal-hal tertentu, kekeliruan dari kesenangan sesaat yang diambil seseorang, bisa jadi membuat banyak orang terluka.

“Oh, Tuhan….” Air mata Emilia jatuh di punggung tanganku. Aku menyekanya. Tidak seperti saat datang,
bagaimana dia memancarkan kecantikan dan percaya diri. Kini, aku bisa dengan jelas melihat luka dari matanya. “Aku berharap ini mimpi.” Emilia membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan.

Kami saling diam. Bermenit-menit aku tak mengatakan apa pun. Bukan aku tidak mau menghibur dan menguatkan Emilia, tetapi menurutku seseorang yang baru saja menerima hal besar dalam hidupnya butuh waktu untuk mencerna. Aku yakin, cepat atau lambat Emilia akan memahaminya. Dia pasti tahu langkah apa yang akan diambil.

Lanjutkan membaca  Novelet : Esperansa (3)


 


Topic

#fiksi, #fiksifemina, #novelet, #cerber

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?