Kubilang kepadanya, itu tugasmulia. Memang benar seperti itu, bagiku Antoni adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaga kami. Bahkan, hingga hari ini Antoni masih betah melajang. Karena baginya, yang nomor satu dalam hidupnya adalah aku dan adiknya.
Pernah kubilang kepadanya, dia berhak bahagia. Menyuruhnya jatuh cinta dan membangun masa depan. Tapi jawabnya, “Kebahagiaanku saat ini Mama dan Carol. Aku tak perlu memaksakan hidup bersama orang lain dan berpura-pura bahagia.”
Kadang-kadang aku merasa bersalah kepada Antoni karena tak bisa mengantarkan ke jenjang pendidikan yang tinggi. Tapi aku percaya, perjalanan kami telah mendidiknya menjadi lelaki dewasa yang bertanggung jawab. Dia juga yang mengusulkan agar kami ikut program transmigrasi demi masa depan Carolin. Barangkali memang garis takdir, atau balasan kasih sayang yang diberikan Tuhan atas usaha dan doa kami.
Di tempat ini, kami punya rumah yang menjadi milik kami seutuhnya. Memiliki pekarangan setengah hektare dan satu setengah hektare lahan garapan. Carolin langsung diterima menjadi guru. Sebelumnya dia telah menyelesaikan pendidikan di Unesa. Sedangkan Antoni bekerja keras menggarap lahan. Dia begitu bangga menjadi petani katanya. Sebenarnya, menggarap lahan mentah bukan hal mudah.
Semua warga mengeluhkan itu. Tahun pertama benar benar ujian. Hingga penghujung tahun kami belum
mendapat hasil panen apa pun. Banyak warga trans yang pulang kampung karena merasa putus asa. Tapi bagi kami, di sini rumah terakhir.
“Wow! Mama masih menjahit?” Emilia menunjuk mesin jahit di dekat jendela. “Untuk melatih mata tua.” Aku tertawa. Kami sudah duduk di ruang tamu dan melanjutkan cerita. Ya, di masa-masa sulit itu, Antoni bekerja di lahan sawit dengan gaji yang sangat rendah.
Aku memasang pelang di depan rumah untuk jasa menjahit. Namun, karena kami semua berada di musim paceklik, tak ada seorang pun datang untuk menjahit baju.
Topic
#fiksi, #fiksifemina, #novelet, #cerber


