Fiction
Cerpen: Katakombe Santa Fallecia
22 Dec 2017
SEPERTI MEMASUKI KEGELAPAN abad penuh penderitaan, abad kelam bagi yang beriman, ketika para martir
bersembunyi dalam ketakutan tetapi tak pernah kehilangan harapan. Kegelapan itu terasa mencekam sekaligus meneduhkan.
Cahaya remang lampu dari kapel kecil itu membuat serakan batu-batu besar seperti bayangan yang ingin menyembunyikan
diri dalam lorong-lorong panjang gua bawah tanah tuffa.
Dan bayangan-bayangan itu seolah datang dari ketiadaan yang membuat sekelilingnya terasa kosong. Kesunyiannya mengingatkan pada kengerian yang ingin dilupakan. Berabad silam jenazah suci itu ditemukan dalam reruntuhan dengan tubuh yang masih utuh.
Keajaiban tidak datang tiap hari, tapi kejaiban akan datang pada mereka yang beriman. Di bawah kekejaman Marcus Aurelius, di tahun 106-165, Fallecia, janda dengan tujuh anak itu dipaksa mengingkari imannya. Para penyiksa seperti mendapatkan kegembiraan mempraktikkan bermacam alat penyiksa ke tubuh wanita itu. Mula-mula dengan coffin torture, rangka besi pipih yang dibentuk melekuk sesuai tubuh korban hingga terkerangkeng dan digantungkan di pinggir jalan. Tiap yang lewat boleh melemparinya dengan batu.
Ia seperti mendengar kembali kesakitan itu, ketika sekoloni sarang semut api dilemparkan ke tubuh wanita yang telah dilumuri minyak gajih. Bau gurih gajih bercampur keringat dan borok yang mulai membusuk membuat semut-semut itu menggigit secuil demi secuil tubuh wanita itu. Masuk ke telinganya, hidung dan liang matanya. Berminggu terkerangkeng
dan tergantung menanggung kesakitan, ia hanya terus berdoa, hingga membuat bosan para penyiksanya.
Tapi, para algojo tak pernah kehabisan imajinasi untuk tahu apa yang terbaik buat ibunya. Setelah lebih 10 tahun, sejak tahu kanker telah menyebar dan bertahan menanggung semua kesakitannya, kematian terasa jadi jalan yang melegakan bagi Ibu.
Dari Ibu, ia belajar menyimpan sakit dan penderitaan. Di sisa waktu ketika Romo Pambudi sering menemani Ibu berdoa, ia memilih berdiam diri. Kanker sudah membuat Ibu begitu menderita, dan ia tak mau lagi membebaninya. Ia juga belajar
menyembunyikan kesakitan. Bedanya, ia tak berdoa serajin Ibu. Justru Dokter Yap yang tak percaya, ketika menyerahkan hasil laboratorium terakhir, sebelum keberangkatannya ke Italia.
“Sebagai dokter, saya tak dididik untuk percaya keajaiban. Tapi, ini sungguh tak masuk akal.” Dokter Yap telah menyarankan untuk menjalani radioterapi kanker otaknya, bahkan mengatakan kemungkinan hidupnya tak akan lebih setahun lagi, tapi kini mendapati semuanya telah bersih. Dengan berkelakar, Dokter Yap menggambarkan, “Otakmu seperti barusan dicuci dengan detergen pembersih!” Dokter yang telah lebih dari dua tahun menangani penyakitnya itu menatap tak percaya.
Bagaimana seorang ibu merasakan penderitaan anak-anaknya takkan pernah bisa dipahami anak-anaknya. Ia tak pernah menceritakan kanker otak yang ia derita kepada Ibu, tetapi kini ia tahu mengapa Ibu memintanya ke Katakombe Santa Fallecia. (f)
Topic
#cerpen, #fiksifemina
event
recommended


