KETIKA IA MENDAKI jalan setapak menuju Monte Erice, langit sebersih satin putih, pepohonan seperti tengah disucikan oleh cahaya lembut. Salju memang menutupi hampir seluruh perbukitan, tetapi udara tak sedingin yang dibayangkannya,
bahkan terasa seperti pelukan yang menenteramkan. Mungkin juga karena berkeringat, setelah lebih sepuluh kilo meter ia
berjalan mendaki. Jalan kecil berkelok-kelok menyisir perbukitan granit ini memang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.
Di bawah sana bayangan rumah-rumah kian kelabu terkelambu kabut. Harum lembap kayu dan bebatuan berlumut membuatnya merasakan kesunyian yang kudus. Pulau Egadi yang tampak kecokelatan bagai roti diolesi selai kacang yang sedang dihangatkan, dan pantai San Vito Lo Capo mengingatkannya pada hijau lembut permukaan agar-agar.
Tampak kastil dari abad pertengahan berdiri di ketinggian pada sebuah tebing, juga gereja dengan menara lateral yang menjulang dan berkilat oleh cahaya matahari seolah diluluri madu. Tapi, bukan ke gereja megah itu ia menuju. Ia melihat kelokan itu.
“Dari situ kau akan menemukan undakan batu menurun,” begitu petunjuk pemilik kedai kopi yang ditemuinya sebelum menaiki perbukitan ini. “Kau tinggal mengikuti undakan itu untuk sampai ke gereja yang kau cari. Stai attento. Hati-hati, di musim dingin undakan batu itu sangat licin.”
Setelah melewati rimbun pepohonan, ia melihat bangunan tua yang seolah-olah abadi dalam sepi. Bahkan menjelang Natal seperti itu tak banyak yang datang. Orang-orang pastilah lebih memilih mengunjungi Basilika Santo Petrus di Vatikan. Dan ia jadi teringat kelakar Romo Pambudi.
Yang akan kau kunjungi bukanlah tempat menarik untuk foto-foto, yang bisa dipamerkan dengan bangga di media sosial. Ia bisa menangkap sindiran halus itu. Orang-orang kini lebih memilih tempat ziarah yang indah untuk latar belakang potret mereka. Bahkan di tempat-tempat suci, orang-orang kini lebih sibuk selfie ketimbang berdoa.
Ia memandang bangunan sederhana dengan pintu kayu tanpa ukiran dan tembok batu yang makin kelabu dipulas waktu itu.
Gereja ini memang dibangun bukan untuk kemegahan, tapi untuk menandai kesakitan dan kepedihan. Karena pada mulanya hanyalah katakombe. Perbukitan cadas dengan gua besar dengan banyak lorong berkelok-kelok dan ceruk Loculi pada dindingnya.
Topic
#cerpen, #fiksifemina


