Pak dokter memberi tahu Nate bahwa lubang di giginya terbentuk akibat bergesernya susunan geligi yang menyebabkan celah. Selain ditambal, di depan geraham belakang perlu dibuatkan gigi tiruan. Masing masing di bagian kiri dan kanan atas.
“Tak perlu yang permanen, cukup model lepasan saja,” kata beliau sembari menjelaskan jenis-jenisnya secara detail.
Gadis itu tercenung. Gigi palsu juga identik dengan Lola. Saat-saat awal ia hidup berdua dengan neneknya, beliau terkadang masih terisak bila terkenang Lolo, lalu membaca Alkitab untuk mendoakan suaminya. Namun, ada kesibukan lain yang neneknya tak pernah lupa: Lola selalu meluangkan waktu khusus tiap pagi dan malam untuk memasang serta melepas gigi palsunya.
Saat bercermin berdua di pagi hari, Lola memberi tahu Nate soal ‘gigi artistik’ bahwa beliau ingin selalu tampil menarik, tidak kempot pun terlihat tua apalagi tampak merana sejak ditinggal Lolo. Kehadiran gigi palsu membangun rasa percaya diri neneknya.
Karena itu, saat sang nenek menjumpai susunan gigi Nate tidak keruan, tanpa tunggu waktu beliau membawanya ke dokter gigi di Makati, bagian dari Metro Manila. Saat gigi palsu Lola tak digunakan, selalu direndam dalam cawan beling berisi larutan khusus. Hal yang membuat mata Nate dan Ton Ton—kedua abangnya sesekali datang di saat sekolah libur—memandangi tanpa berkedip.
Hanya Jon Jon yang menganggapnya biasa, katanya, “Karena pada akhirnya di hari tua semua orang akan punya hubungan khusus dengan gigi palsu.” Lalu ia menakut-nakuti, “Awas, gigi palsu Lola akan menyemburkan air, bila kalian terus-menerus memelototinya!”
Topic
#cerpen, #fiksifemina


