Berada di ruang tunggu dokter gigi mengantar kenangan Nate kepada Lola. Terutama saat sang nenek mengantarnya untuk perawatan orthodontic braces. Pasang kawat alias behel, karena susunan giginya di bagian atas centang perenang.
Lola tahu, kehadiran behel membuat Nate kesulitan menikmati potongan daging dalam bulalo, masakan andalannya. Beliau lalu mengakali dengan menambahkan banyak tulang sapi, sehingga Nate bisa memilih makan sumsum saja, dengan cara diisap pakai sedotan. Tanpa perlu susah payah mengunyah daging.
Nate sering melihat betapa neneknya telaten memasak bulalo. Tidak jarang dalam jumlah besar, karena tetangga, kenalan, sampai anggota keluarga besar memesan khusus. Kalau orang sudah jatuh cinta
pada bulalo, biasanya sulit dilupakan.
Kalau sudah begini, Lola mempekerjakan katulong atau pembantu yang bisa diupah mingguan. Setelah katulong mencuci bersih daging sengkel dan tulang yang masih berisi sumsum, Lola akan merebus bahan-bahan itu sampai mendidih, lalu mengerok habis semua lemak di bawah air mengalir.
Kemudian dijerang lagi dan proses diulang, sampai ketiga kalinya baru dipindahkan ke panci bertekanan tinggi dan dijerang bersama air.
Lola membubuhkan lada, bawang merah, bawang putih, garam, gula, dan patis—benar, mirip petis Indonesia. Setelah daging empuk, ditambahkan potongan jagung muda, pok choy, serta labu siam.
Sembari mengaduk bulalo, Lola berkata kepada Nate, “Perlu waktu dan kesabaran untuk membuat bulalo yang sedap. Kalau orang sudah jatuh cinta pada bulalo, biasanya sulit dilupakan.”
Topic
#cerpen, #fiksifemina


