Career
Saatnya Wanita Berkarier di Bidang Sains & Teknologi, Ini Strateginya!

8 May 2017


Ilustrasi: Dok. Femina

Siap Bersaing
Eranya memang sudah berubah. Dengan dunia yang serba digital, wanita seharusnya memiliki kesempatan berkarier lebih luas, termasuk berkecimpung di dunia sains dan teknologi. Ditambah lagi, para generasi millennial yang telah terbiasa hidup dengan teknologi dan perubahan yang sangat cepat akan mengarah pada peningkatan jumlah wanita yang mendalami sains dan teknologi.

Meski begitu, harus diakui, sekarang ini masih menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi para wanita bekerja untuk mendalami teknologi, termasuk digital. Hal ini tergambar dari hasil survei, bahwa wanita masih berada di bawah pria dalam hal mengikuti perkembangan teknologi. Jika 74 persen pria mengaku cepat mengadopsi teknologi terbaru, hanya 64 persen wanita yang melakukan hal sama. Begitu pula dalam hal meningkatkan digital skill, 67 persen pria mengaku memiliki skill digital, sedangkan wanita hanya 60 persen-nya saja.

Agar siap bersaing, ada 3 faktor utama bagi wanita untuk meningkatkan dan mempercepat kariernya, yaitu tech immersion, digital fluency, dan career strategy. Pertama, tech immersion, berhubungan dengan penguasaan teknologi dan mendalami bidang STEM. Dengan menguasai teknologi, wanita bisa bersaing dan memiliki kesempatan sama dengan pria di dunia kerja.

Dalam konteks Indonesia, Neneng melihat sebenarnya tidak ada gap antara pria dan wanita di dunia kerja. “Perbedaan mungkin terjadi ketika misalnya bicara tentang overtime. Mungkin pria lebih mudah melakukan overtime dibandingkan wanita, yang mungkin punya tanggung jawab di rumah. Tapi, dengan menguasai teknologi digital, wanita bisa melakukan pekerjaannya dari rumah,” jelasnya.

Untuk mendukung survei Leading in The New, femina dan Accenture pun membuat Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti oleh 20 wanita karier yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu berusia 20 - 30 tahun dan kelompok dua berusia 30 - 40 tahun.

Para peserta menyimpulkan bahwa wanita kini telah terintegrasi dengan teknologi dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk juga dalam hal pekerjaan. Mereka menggunakan teknologi untuk belajar, meningkatkan skill, mendukung pekerjaan, belanja dan urusan perbankan, hingga mencari informasi untuk tetap update dengan perkembangan teknologi terbaru.

Mendapat keuntungan dari memanfaatkan teknologi juga dirasakan oleh Cynthia Tenggara, ketika ia banting setir, dari tim kreatif di sebuah stasiun televisi pindah ke industri digital sebagai account manager.
Dua tahun bekerja di perusahaan e-commerce, Cynthia melihat potensi e-commerce pertumbuhannya sangat baik. Hingga menumbuhkan idenya untuk menjalankan bisnis katering online, berangkat dari pengalaman pribadinya yang selalu kesulitan mencari makan siang yang sesuai keinginan. Berkat teknologi pula, ia mengaku dapat menjalankan peran ganda, sebagai CEO BerryKitchen sekaligus menjalankan peran sebagai ibu dan istri di rumah.

Yang kedua, digital fluency. Bukan berarti mahir dalam teknologi saja, tapi bagaimana mengambil keuntungan dari menjadi digital. Simak di laman berikutnya.
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#tipkarier, #IPTEK

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?