Career
Saatnya Wanita Berkarier di Bidang Sains & Teknologi, Ini Strateginya!

8 May 2017



 
Ilustrasi: Dok. Femina
 
Prospek Cerah
Kesalahpahaman bahwa STEM merupakan dunia pria dan jalan wanita berkarier di bidang ini akan sangat sulit, sudah selayaknya dihilangkan. Di era digital seperti sekarang ini, menurut Neneng Goenadi, Country Managing Director Accenture Indonesia, mau tidak mau teknologi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan harus kita pelajari. “STEM akan menjadi sangat penting karena dengan serba digital, sains dan teknologi akan sangat dibutuhkan, misalnya saja berhubungan dengan pengolahan data digital untuk kebutuhan bisnis,“ katanya.

Melihat perkembangan dunia yang mengarah pada penguasaan teknologi, tentu ke depan bisa diprediksi makin banyak perusahaan yang membutuhkan orang-orang yang memiliki latar belakang sains dan teknologi. Dalam hal ini, wanita tidak boleh ketinggalan.

Hasil penelitian Mastercard Girls in Tech cukup membawa angin segar bagi wanita yang terjun di bidang sains dan teknologi. Hal ini terlihat dari responden, para first jobber yang lulus dengan gelar STEM, 84 persennya memperoleh pekerjaan pertama mereka kurang dari 6 bulan. Ini berarti, empat dari lima lulusan STEM di Asia Pasifik mendapat pekerjaan pertama dalam kurun waktu 6 bulan. Sementara itu, 60 persen dari lulusan tersebut juga sangat puas dengan pilihan pekerjaan yang mereka miliki setelah lulus.

Penelitian ini juga menemukan fakta bahwa di Indonesia, mayoritas lulusan STEM bekerja di bidang yang sesuai dengan gelar mereka. Sementara alasan utama mereka memilih bekerja di bidang STEM adalah passion (50%) dan tantangan (47%).

Selain itu, pemikiran utama mereka ketika memutuskan untuk memilih sebuah pekerjaan antara lain upah yang tinggi (82%), bekerja dengan orang yang cerdas (82%), keamanan dalam bekerja (79%), dan kesesuaian pekerjaan dengan ketertarikan mereka (79%).

Tidak hanya kepuasan bekerja, di antara first jobber yang bekerja di bidang STEM juga terdapat persepsi jenjang karier yang panjang terhadap pekerjaannya. Sekitar 63 persen dari wanita muda yang disurvei mengatakan bahwa mereka cenderung untuk bertahan di bidang yang terkait dengan STEM dalam karier mereka.

Hasil dari survei Mastercard tersebut menunjukkan bahwa mengejar karier di bidang STEM sangat menjanjikan.
Berdasarkan pengalaman menjalankan bisnis di bidang human resources, Veronica Linardi, CEO qerja, mengakui bahwa wanita sekarang sudah lebih melek teknologi dibanding satu dekade lalu. Ia juga melihat, mereka yang memilih berkecimpung di industri teknologi punya kompetensi yang sejajar dengan pria. “Hanya, minat mereka memang masih lebih rendah, tapi bukan berarti tidak mampu,” ungkap Veronica.

Soal minimnya minat ini juga diakui dan disayangkan oleh Monica Oudang, Chief of Human Resources Go-Jek. Apalagi menurut Monica, jika bicara soal kompetensi, wanita tidak kalah dengan pria. “Beberapa posisi puncak yang terkait langsung dengan pengembangan teknologi aplikasi di Go-Jek dipegang oleh wanita. Ini membuktikan bahwa wanita mendapat tempat, meski berada di area yang didominasi oleh pria,” katanya.
Apalagi, menurut Monica, untuk masuk ke industri teknologi, tidak selamanya harus memiliki background teknologi. Wanita yang sempat bekerja di dunia perbankan sendiri ini juga mengaku tidak berkecil hati ketika memasuki industri digital tanpa memiliki latar belakang pendidikan di bidang STEM.

“Ketertarikan saya dimulai karena sering diskusi dengan Nadiem Makarim, yang saya kenal saat menjalankan bisnis headhunting. Saat itu kami saling berbagi keinginan untuk membuat sesuatu yang techie, sesuai dengan tuntutan zaman saat ini yang serba digital,” ceritanya.

Lain lagi cerita Joan Caroline Tobing. Wanita yang bekerja sebagai Manager of Geo Science Technology PT Medco Energi E&P ini sudah lebih dari 15 tahun berkecimpung di dunia minyak dan gas. Sebagai manager geo science, tugasnya adalah memimpin tim peneliti mengolah data yang didapat dari lapangan ketika akan mencari sumber minyak bumi. Menjadi wanita pemimpin dalam tim yang mayoritas adalah pria tentunya butuh idealisme yang kuat dan kerja keras.

“Sejak awal saya memang tertarik pada bidang teknik. Inginnya masuk teknik elektro, tapi justru diterima di jurusan geologi. Hingga akhirnya berkarier di perusahaan minyak dan gas. Selama itu pula saya tidak merasa terbebani berada di lingkungan yang mayoritas pria,” kata Joan.

Joan juga menekankan bahwa berkarier di bidang sains dan teknologi seharusnya tidak menjadi kendala bagi wanita. Kuncinya, wanita harus memiliki kepercayaan diri bahwa ia mampu melakukan hal yang sama dengan rekan pria. Soal career path, Joan melihat tidak ada perbedaan antara pria dan wanita untuk mencapai posisi pimpinan.

 

Faunda Liswijayanti


Topic

#tipkarier, #IPTEK

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?