
Foto: Dok. Pribadi
Panca Syurkani, Pewarta Foto Media Indonesia
Mendisiplinkan Diri
Bekerja di lapangan dengan sistem remote working telah saya jalani sejak bekerja sebagai pewarta foto, tahun 2007. Di perusahaan media tempat saya bekerja ini, sejak 2010 pun sudah menerapkan sistem kerja serupa. Sebab, nature pekerjaan saya meliput kejadian dan peristiwa di lapangan tiap hari tentu tidak memungkinkan jika saya harus absen dulu di kantor saya yang terletak di daerah Kedoya, Jakarta Barat.
Agar efektif, saya ditugaskan standby di Istana Merdeka oleh redaktur saya. Jadi, saya tiap hari langsung menuju ke sana. Dengan begitu, saya tidak akan ketinggalan atau kehilangan momen, jika ada peristiwa atau kejadian penting yang tentu tidak akan bisa diulang. Setelah memotret, mengolah foto, dan membuat caption foto, hasilnya akan segera saya kirim ke redaktur atau asisten redaktur di kantor untuk dijadikan berita.
Meski jarang sekali ke kantor, koordinasi dengan sesama rekan pewarta foto dan tim editorial berjalan dengan lancar lewat WhatsApp group. Jika ada penugasan tertentu, biasanya redaktur atau asisten redaktur akan menugaskan para pewarta foto minimal 1 hari sebelumnya. Saya harus selalu siap dengan kamera, laptop, charger, dan modem wi-fi agar bisa bekerja dari mana saja.
Untuk perhitungan absen kantor, saya dan pewarta foto lainnya wajib mengisi laporan absen dari tanggal 1 – 30. Pada akhir bulan, laporan berisi lokasi dan waktu penugasan itu harus kami serahkan ke HRD. Sebenarnya, belakangan ini HRD sudah membuat aplikasi digital untuk absen, tapi saya belum mencobanya.
Secara fisik, saya memang tidak perlu hadir di kantor, tapi penilaian terhadap karya dan pekerjaan saya terus berjalan. Saya dinilai dari foto yang saya ambil, bukan dari kuantitas, tapi dari kualitas. Tentu harus memiliki nilai berita sesuai standar perusahaan media tempat saya bekerja.
Selain foto, kinerja saya juga dinilai dari komunikasi yang baik dengan tim editorial. Misalnya, selalu merespons perintah penugasan di mana pun dan kapan pun. Jika kinerja saya dan rekan-rekan dinilai bagus oleh redaktur, perusahaan pun memberikan apresiasi berupa uang dalam jumlah tertentu. Cara ini membuat saya lebih semangat berkarya. Kalau memang kerja saya kurang baik, mereka tak segan menegur kami. Tapi, kalau bagus, saya diapresiasi. Fair enough.
Sebagai pewarta foto, saya dan rekan-rekan memang terbiasa bekerja sendiri. Tapi, pertemuan secara fisik tetap penting. Saya rutin kumpul bersama rekan-rekan atau redaktur tiap 2 minggu atau 1 bulan sekali. Tiap kumpul, kami sharing ide, evaluasi foto-foto, atau sekadar ngobrol saja. Dari situ, biasanya saya bisa mendapat banyak wawasan baru, misalnya angle foto unik, kejadian unik, info kegiatan, dan lain-lain. Kalau ada keluhan yang terkait pekerjaan, kami utarakan di forum ini agar bisa ditemukan solusinya.
Untuk menjaga kualitas pekerjaan, karena tidak ada yang mengawasi, saya harus mendisiplinkan diri. Agar tidak ketinggalan momen dari peristiwa atau kejadian penting, saya selalu berusaha hadir di lokasi liputan sebelum waktu yang ditentukan. Sebisa mungkin, saya juga selalu melakukan riset kecil-kecilan untuk lokasi atau acara yang akan saya liput supaya saya bisa mendapatkan angle foto terbaik.
Saya juga membiasakan diri untuk tidak menunda-nunda pekerjaan. Kalau sudah selesai motret, mengolah, dan membuat caption foto, saya harus langsung kirim foto-foto itu ke redaktur agar tidak menumpuk dan tidak kehilangan nilai beritanya. (f)
Baca pengalaman para profesional lainnya di kanal http://www.femina.co.id/womens-leadership-network/
Topic
#TipKarier


