Ini Pengalaman 3 Karyawan dengan Skema Telecommuting
20 Feb 2017
Foto: Dok. Pribadi
Chitrawati Juganda Senior Manager Financial Services Accenture Indonesia Lebih Percaya Diri Bertemu Langsung
Saya beruntung, perusahaan tempat saya bekerja saat ini memiliki program flexible working arrangement (FWA) bagi semua karyawannya, yang terdiri atas 3 kategori.
Pertama, work from home, karyawan memilih berapa hari ia ingin bekerja di kantor selama seminggu. Kedua, part time, karyawan memilih jumlah hari kerja aktif dalam satu minggu. Kedua kategori ini biasa dimanfaatkan karyawan yang jenis pekerjaannya bersifat administratif, seperti HRD, administrasi, dan accounting. Ketiga, working in home location, khusus untuk karyawan yang baru ditugaskan di luar kota atau luar negeri.
Sebagai konsultan, agak sulit bagi saya mengambil program formal itu karena jam kerja saya mengikuti jam kerja klien yang tidak bisa ditebak. Saya harus menjaga ekspektasi klien. Beruntung, kantor saya pada dasarnya tidak terlalu mementingkan kehadiran fisik. Penilaian kerja tiap orang dinilai berdasarkan kualitas pekerjaan dan ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan.
Karena itu, saya tetap bisa menjalankan remote working tiap kali memungkinkan, seperti kalau sedang tidak ada janji dengan klien dan tidak mengganggu jalannya proyek.
Untuk keperluan komunikasi, saya butuh koneksi internet yang stabil, aplikasi chat dan meeting place dengan conference call atau video call seperti Skype. Secara umum, kantor memang memanfaatkan conference call dan video call tiap meeting agar efisien. Kantor juga menggunakan one drive yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja oleh karyawan untuk menyimpan dan mengambil data.
Sistem kerja seperti ini membuat saya dan rekan-rekan kerja harus proaktif, tetapi juga bersemangat. Kantor tidak membeda-bedakan gaji, benefit, dan kesempatan promosi, baik mereka yang bekerja penuh di kantor maupun sesekali di rumah. Tiap orang punya kesempatan yang sama, tergantung kualitas kerja.
Meski peraturan sangat fleksibel, saya tetap menganggap tatap muka secara fisik itu penting. Terutama, jika saya dan rekan harus membahas isu besar atau sensitif. Saya lebih percaya diri menghadapi lawan bicara karena saya bisa merasakan langsung suasana hati dan kondisi dari body language-nya. Insting saya lebih bekerja.
Sementara, kalau lewat conference call atau video call, saya justru lebih mudah grogi karena tidak bisa merasakan langsung situasi dan kondisi lawan bicara. Saya malah lebih takut sering jadi salah bicara.