Cycling Tour untuk kampanye stop kekerasan berbasis gender di ruang digital. Foto: Dok. Humas UE Indonesia
Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Sedunia pada 25 November diperingati dengan berbagai kegiatan hingga 10 Desember, termasuk kampanye untuk menghentikan kekerasaan berbasis gender di ruang digital.
Salah satunya melalui Cycling Tour dari kampanye 16 Days of Global Activism Against Gender-Based Digital Violence, yang digelar dengan rute sepanjang 10 km dari Lapangan Parkir IRTI Monas menuju One Satrio, di Sabtu pertama bulan Desember.
Sejumlah perwakilan dari kementerian dan lembaga, berbagai delegasi Uni Eropa, negara-negara anggota Uni Eropa, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas Bike to Work Indonesia. Sekitar 300 peserta hadir dengan bersepeda membawa bendera bertema Unite to End Digital Violence Against All Women and Girls sebagai simbol gerakan lintas negara melawan kekerasan digital.
Dubes Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chalbi (tengah, berkacamata), bersama Woro Srihastuti Sulistyaningrum, dan para pendukung gerakan. Foto: Dok. Humas UE Indonesia
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum (Lisa), menekankan bahwa perlindungan perempuan dan anak harus diperkuat tidak hanya di ruang sosial dan digital, tetapi juga dalam situasi bencana yang tengah berulang di berbagai daerah.
“Setiap bencana selalu menunjukkan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan, bukan hanya terhadap kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan digital. Dalam situasi krisis, risiko eksploitasi, perundungan, dan pelecehan meningkat, termasuk di ruang daring,” ujar Lisa.
Lisa menjelaskan bahwa pemerintah kini mendorong Gerakan Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, yang memperkuat pencegahan, penanganan, pendampingan, dan pemulihan korban secara terpadu. Gerakan ini melibatkan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, masyarakat, serta mitra pembangunan internasional seperti Uni Eropa.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menegaskan pentingnya solidaritas lintas negara dalam menghadapi kekerasan digital terhadap perempuan dan anak. Hal ini telah jadi isu global yang semakin menonjol saat terjadi bencana atau kondisi darurat kemanusiaan.
“Setiap pesepeda mewakili komitmen untuk bertindak untuk menumbuhkan rasa hormat, memastikan ekosistem digital yang aman, dan mendengarkan aspirasi perempuan secara online maupun offline. Kami bangga dengan terjalinnya kerja sama erat antara Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa dalam mempromosikan kesetaraan gender dan mengatasi tantangan bersama,” ujar Duta Besar Chaibi.
Bersepeda bersama komunitas dan para pendukung kampanye 16 Days of Global Activism Against Gender-Based Digital Violence. Foto: Dok. Humas UE Indonesia
Kemenko PMK menegaskan bahwa kolaborasi internasional ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa perempuan dan anak tetap terlindungi, terutama di tengah meningkatnya intensitas bencana yang membawa risiko berlapis, termasuk di ruang digital.
Gerakan bersama ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, memperluas edukasi digital, dan memastikan ruang daring yang aman, inklusif, serta beradab. (f)
Baca juga:
FIFTY FIFTY dan ONF Memeriahkan Tiga Tahun Perjalanan Budaya KOREA 360
Pintu Incubator & Lakon Indonesia Hadirkan Kolaborasi Fashion Lintas Budaya di Premiere Classe Paris
Paviliun Indonesia Raih Silver Award di World Expo 2025 Osaka, Kansai, Jepang



