Fiction
Cerpen: Katakombe Santa Fallecia

22 Dec 2017



Mungkin benar seperti kata ibunya, Tuhan mencintai orang-orang yang tabah. Dan ia tak akan melupakan, betapa tabah cinta ibunya. Kemiskinan tak membuatnya menyerah membesarkan anak-anaknya. Ibu membuka toko kelontong kecil, sambil menerima jahitan, begitulah cara ia berjuang menyekolahkan dua anaknya.

Kegigihan Ibu melecutnya untuk berprestasi di sekolah, hingga mendapat beasiswa, yang memungkinkannya bisa kuliah.
Pemandangan langit kelabu di atas bukit-bukit Monte Lepre yang gersang mengingatkannya pada mata ibunya yang terkatup redup, tapi menyimpan ketabahan. Dalam suasana cuaca yang membosankan, ia seperti merasakan kehangatan, seolah-olah sedang berada dalam pelukan Ibu.

Perbukitan gersang dan gedung-gedung tua mengingatkan pada novel Mario Puzo. Kebaikan bukan hanya milik kaum
beriman, para bandit pun percaya kebaikan. Tapi bukan novel The Sicilian yang kini dibacanya, melainkan buku kecil tentang kisah-kisah mukjizat para santo dan santa itu.

Bukan tentang keteguhan dan keberanian Salvatore Guiliano melawan kerakusan carabieneri, polisi dan aparat hukum korup, juga Don Croce Malo yang kejam. Tapi tentang Beata Eustochium yang juga lahir di Messina, Sisilia sampai Santa Fallecia dan Santo Philip Benizi, orang-orang suci yang mati mengenaskan tetapi diberkati kemuliaan dan keajaiban.

Meski, jujur saja, ia tak terlalu berharap pada keajaiban. Di zaman ini, keajaiban lebih terasa seperti bualan.
 


Topic

#cerpen, #fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?