Melihat ke belakang, Nyctagina atau yang biasa dikenal dengan karakter Jengkelin, tak pernah membayangkan akan terjun di dunia hiburan. Ia gadis pemalu dan punya kendala rasa percaya diri kalau harus tampil di depan umum.“Saya sedang jalan-jalan di mal ketika ditawari menjadi model majalah remaja,” kata Gina, mengingat peristiwa ketika ia masih duduk di bangku SMP. Bukannya senang, tawaran itu sempat ditolaknya. Tapi, setelah diyakinkan, Gina akhirnya datang ke kantor majalah tersebut untuk difoto.
Tawaran kedua datang lagi, kali ini sebagai bintang iklan. Itu pun terjadi ketika ia sedang berada di mal. Tawaran ini mengantarnya menjadi pemain sinetron, setidaknya belasan judul telah dibintanginya, di antaranya Kawin Gantung dan Bunga di Tepi Jalan.
“Jadi masuk ke dunia hiburan adalah suatu kebetulan. Saya inginnya ikut Gadis Sampul, tapi gagal karena saya tidak banyak bicara ketika tes wawancara, sementara peserta lainnya ceriwis dan tidak malu-malu,” katanya.
Meski sukses di panggung hiburan, cita-cita anak tunggal pasangan Imam Djauhari dan Cut Fauziah ini sejak kecil tidak berubah, yaitu menjadi dokter. “Insya Allah, co-as saya selesai Juli tahun ini.”
Buat Gina, menjadi komedian dan juga dokter adalah dua dunia yang sangat berbeda, namun ternyata bisa saling menunjang. Ia banyak mendapat kemudahan semasa praktik kerja. Misalnya, dukungan dari perawat yang dengan senang hati membantu karena merasa mengenal Gina.
Para pasien juga jadi lebih percaya padanya. “Ketika praktik di puskesmas, ada beberapa pasien yang khusus datang menemui saya, karena kerabatnya sembuh berkat obat pilihan saya. Padahal, obat-obatan tersebut bisa didapat dari dokter lain juga,” katanya, tersenyum geli.
Dengan apa yang dicapainya selama ini, Gina mengaku menikmatinya dengan harapan bisa mengembangkan karier di dunia entertainment. “Sekolah mungkin bisa menjadi formalitas bagi sebagian orang, tapi saya sudah menjalaninya selama 10 tahun, jadi tidak mungkin saya tidak serius. Saya juga ingin sukses sebagai dokter, “ ungkap gadis berdarah Aceh, Padang, dan Makassar ini.
Gina mengaku perfeksionis. Ketika menyelesaikan sekolah, ia tidak mau sekadar lulus, tapi ingin lulus dengan nilai maksimal. Begitu juga ketika ia harus tampil sebagai Jengkelin. “Kalau memang harus jelek, ya, jelek aja sekalian. Jangan setengah-setengah,” katanya, tegas.
Tari Trisulo
Foto: Jane Djuarahadi


