Fiction
Theo (10)

25 Jun 2012

<< cerita sebelumnya

Apa, sih, maunya lelaki itu? batin Ivonne dengan kesal.


Kemarin dia sudah melanggar ’peraturan pribadi’-nya dengan makan malam di rumah Oma Rima. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak. Menanti-nanti kejadian buruk apa yang akan terjadi. Hari ini, dia kembali harus melanggar ’peraturan pribadinya’-nya. Ivonne tidak suka itu!

Dia sibuk mengaduk-aduk tasnya. Mencari-cari apakah dia membawa tusuk konde lain. Tidak mungkin dia membiarkan rambutnya tergerai seperti ini. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi karena dia menggerai rambutnya? Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri!

”Hai, Ivonne...,” sapa sebuah suara.
Ivonne menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Dia mengenali suara itu. Suara Alex....

“Hai...,” balas Ivonne.

Alex tersenyum. Dada Ivonne berdesir. “Pak Darmawan sudah menunggu kamu. Katanya ada dokumen yang harus kamu serahkan pagi ini.” 
Ivonne mengangguk.

”Kamu...,” mata Alex memicing. ”Kelihatan lain hari ini. Kamu kelihatan lebih cantik dengan rambut tergerai.”

Wajah Ivonne memerah. 

Alex tersenyum melihat reaksi Ivonne, kemudian berlalu pergi.
Ivonne menghela napas putus asa. Dia tidak menemukan satu pun tusuk konde di dalam tasnya. Sepertinya, dia harus bertahan dengan keadaan rambut tergerai sepanjang hari ini. Dia menarik napas panjang dan menepuk punggung tangannya tiga kali, kemudian berjalan ke arah ruangan Pak Darmawan.

”Permisi,” sapa Ivonne, sebelum membuka pintu ruangan Pak Darmawan. Theo rupanya juga sedang berada di ruangan Pak Darmawan. 

”Selamat pagi, Ivonne.” Pak Darmawan terkesiap melihat penampilan Ivonne. ”Kamu kelihatan segar sekali hari ini,” pujinya, tulus.

Ivonne tersenyum tipis. ”Terima kasih, Pak Darmawan Sejati. Ini dokumen yang harus saya serahkan.” Ivonne menyerahkan beberapa dokumen yang telah dijanjikan.

”Hari ini saya, Ivi, dan Alex akan mendatangi beberapa customer. Saya rasa kami akan seharian berada di luar kantor. Saya minta izin untuk meminjam sekretaris andalan Bapak,” ujar Theo, sambil melirik Ivonne sekilas.

Pak Darmawan tersenyum. “Tentu! Selama Pak Theo berada di Jakarta, Ivonne telah saya tugaskan untuk penjadi PA  Anda.” 

“Kalau begitu, kami akan mulai bekerja sekarang.” Theo menoleh ke arah Ivonne, “Ayo, Ivi. Kita berangkat sekarang.”

Ivonne keluar dari ruangan Pak Darmawan bersama dengan Theo. Sepanjang perjalanan menuju lift, teman-teman sekerjanya memuji penampilannya. 
”Ivonne, kamu kelihatan lebih cantik hari ini.”
”Nah, gitu, dong. Sekali-sekali rambutnya digerai, jangan digelung terus.”
”Ivonne!!! Ternyata rambut kamu bagus sekali!!!”

Hanya Novelita yang mencibir ketika Ivonne melewati cubicle-nya.
Ketika masuk ke dalam lift, Ivonne tersenyum kecil. Di dalam hatinya berdesir perasaan hangat yang sudah lama tidak dia rasakan. Dia senang mendapat perhatian dari teman-teman sekerjanya. Ternyata, mereka semua memperhatikannya selama ini. 

”Wajah kamu lebih cerah...,” komentar Theo, ketika pintu lift tertutup. ”Mendapat pujian dari teman-teman adalah suatu hal yang positif. Hal positif yang kamu dapat karena kamu telah menggerai rambutmu.”

Ivonne hanya mengangguk. Perasaannya jauh lebih ringan. Mungkin kata-kata Theo benar. Mungkin memang tidak ada yang perlu ditakuti. Toh, hanya masalah menggerai rambut.
Perjalanan ke beberapa klien PT Kimia Utama berjalan dengan lancar. Presentasi yang dilakukan Theo dan Alex juga berjalan dengan lancar. Ivonne sendiri dapat melakukan semua tugasnya dengan baik. Hati Ivonne sedikit tenang. Mungkin memang tidak ada korelasi negatif antara menggerai rambutnya dan kejadian yang terjadi pada hari itu.

Ketika Theo mengajak mereka makan siang, Ivonne dapat menyikapinya dengan lebih santai lagi, walaupun tak urung hatinya berdebar juga. Tidak mudah menghilangkan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dia kondisikan. Tapi, Theo tersenyum lembut kepadanya. Memberi semangat sambil menganggukkan kepalanya.

Dan, Ivonne pun kembali mencoba untuk makan. Perlahan namun pasti. Ternyata, makan di tempat umum sama sekali bukanlah hal yang sulit. Dia dapat melakukannya. Dia bahkan menyukainya. 

Ivonne tersenyum kepada Theo. Senyumnya lebih lebar sekarang.

”Ivonne, kamu benar-benar kelihatan berbeda hari ini,” ujar Alex. Dia tidak tahu kalau Ivonne tadi tersenyum kepada Theo. Sangkanya, Ivonne tersenyum kepada dirinya. ”Kamu lebih ceria, lebih santai, dan tampak sangat menikmati hari ini. Tidak seperti kamu yang biasanya. Tegang, tertutup, seolah setiap hari adalah hari terakhir hidupmu....”

Ivonne kembali tersenyum. Agak geli mendengar analogi yang disimpulkan Alex. Tapi, memang benar adanya begitu. Ivonne selalu waspada, tidak pernah lengah.

Sekarang dia lebih santai, lebih relaks. Dan dia menyukainya. Theo memang telah membuat dirinya berubah. Berubah ke arah yang positif. 

Oleh: Irene Tjiunata

                                                                              cerita selanjutnya >>


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?