Fiction
Sunyi [3]

12 May 2012


“Sudah saya duga kau datang siang ini, Nina.”

Aku memekik, terkejut mendengar suara halus menyapaku.

“Maaf kalau saya mengejutkanmu….”

Aku tidak peduli pada maafnya. Aku hanya tak mau Ibu tahu kedatanganku. Ah, terlambat, Ibu sudah memalingkan wajahnya ke pintu.

“Dokter,” aku kehilangan kata-kata. Aku hanya ingin lari!

“Saya ambilkan kuncinya sebentar di kantor. Kau tunggu di sini atau mau ikut bersama saya?”

Aku menggeleng, bingung. Aku cuma ingin lari!

Dokter Wisnu menepuk pundakku, tersenyum, lalu bergegas ke arah kantornya. Kulirik pintu kasa, Ibu sedang menegakkan kepalanya, menatap tajam ke arahku.

Aku takut. Mestinya, aku ikut Dokter Wisnu. Lebih baik aku lari sekarang!

Tapi, kakiku membeku di tempatnya. Aku tertunduk, memandangi jemari tanganku yang gemetar sejak beberapa menit lalu. Keringat dingin mulai merayapi punggung. Tungkai kakiku terasa lemas. Aku merasa ingin pingsan. Mungkin, lebih baik begitu. Jadi, aku tak perlu masuk melihat matanya.

”Nina?” Dokter Wisnu sudah kembali.

“Saya ingin pulang, Dokter!”

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat. Duduk dulu di dalam.”

Oh, pintu kamar busuk itu sudah terbuka! Batinku berseru.

Bagai robot, ia memapahku ke dalam ruangan berbau aneh.Ada satu kursi, satu ranjang, dan satu meja kecil di sudut kamar. Diiringi pandangan Ibu, aku duduk. Kulirik dengan sudut mata, bibirnya membentuk garis, tampak rahangnya mengeras.

“Nah, Bu Tari, Nina, saya tinggal dulu, ya. Biar kalian dapat bercakap-cakap dengan leluasa.”

Dokter Wisnu menepuk-nepuk pundak Ibu, yang menatapku dengan pandangan setajam pisau. Aku sudah gila, mau datang ke sini.

“Mau apa kau datang ke sini?”

Suara seraknya terasa begitu akrab di telingaku. Bagaikan barang busuk yang tertimbun dalam-dalam di tanah dan kini menyeruak keluar, seperti itulah suara serak Ibu, menyemburkan segala ingatan pahit di dadaku, di kepalaku!
“Siapa kau? Aku tidak punya anak sepertimu! Berani-bera–ninya kau datang ke tempat ini!”

Dalam hati aku tersenyum. Sungguh awal yang baik untuk memulai pembicaraan. Kuredakan suara-suara yang menjerit-jerit di kepalaku. Suara yang sarat sumpah serapah pada makhluk berkursi roda di hadapanku.

“Dokter Wisnu bilang, Ibu sakit,” ucapku pelan dan kaku. Aku tak peduli ia dengar atau tidak.

Tiba-tiba ia terkekeh, membuatku terkejut. “Rupanya, a–nak berengsek ini masih memerhatikan aku!” Suara serak itu meninggi kembali. 

“Bu, tak dapatkah Ibu berhenti mengatakan anak berengsek kepada saya? Saya….”

“Aku bisa katakan apa yang aku mau. Kalau aku mau bilang kau anak berengsek seribu kali, lantas kenapa? Kenapa?”

Keterlaluan! Ini keterlaluan! Aku sudah mencoba berbaik hati padanya, mengapa tidak pernah cukup untuk melepas stempel itu dari keningku?

“Saya benci mendengarnya!” Aku terkejut dengan kebera–nianku sendiri.

“Memang kau anak berengsek! Mengapa? Kau malu?”

“Saya tidak malu. Tapi, itu salah Ibu, bukan salah saya!”

“Apa kau bilang? Salahku? Bagus! Bagus! Ini hasil didikan sekolah, ya? Kau berani menyalahkan ibumu karena perbuatan laki-laki itu?”

“Maksud saya, itu masalah Ibu, masa lalu Ibu! Bukan kehendak saya, Bu! Saya tak pernah minta Ibu lahirkan. Apa pun kejadian yang menimpa Ibu, bukan karena salah saya! Apalagi, saya tidak pernah tahu siapa laki-laki yang Ibu sebut itu! Jadi….”

“Jangan mersa sok pintar! Menyesal aku menyekolahkanmu! Membesarkanmu!”

“Kalau Ibu sekarang menyesal, saya lebih menyesal lagi lahir dari rahim Ibu!”

“Apa? Kurang ajar! Keluar kau dari sini! Keluar!”

Ibu memutar roda kursinya hendak menabrakku. Kukebas pantalonku dan berjalan menghindar ke arah pintu secepat mungkin.

“Tak perlu Ibu suruh, saya akan keluar! Saya menyesal datang ke sini!”

Kubanting pintu jeruji itu. Langkahku tertahan mendengar teriakannya, “Nina! Aku tidak gila! Dengar kau? Keluarkan aku dari sini! Aku tidak gila! Cepat! Keluarkan aku! Aku tidak gila! Aku tidak gila!”

Kuhampiri jeruji itu. Ia menabrakkan kursi rodanya terus-menerus ke pintu besi itu, sambil berteriak histeris. Jarakku mungkin hanya sejengkal dari tubuh kurus itu. Ingin kuraih kepalanya. Membelai rambutnya yang kian tertutup warna perak. Tapi, tidak. Tidak. Terlalu indah. Perlahan kututup pintu kasa cokelat dengan rasa menang. Ia tak akan bisa menyakitiku lagi. Tak bisa menamparku, memukul kepalaku, menendangku. Ia boleh berusaha sekuat tenaga mendobrak pintu ini, ia boleh menjerit sekeras-kerasnya, tapi ia tidak akan bisa keluar dari jeruji besinya! 

Alangkah menyenangkan menikmati pemandangan itu. Ibuku tersayang, aku merasa puas karena hal terbaik yang pernah ku–lakukan adalah memasukkannya ke rumah sakit jiwa ini!

Sungguh, aku tak peduli apakah jiwamu sakit atau tidak. Tapi, sebagaimana Ibu membuat jiwaku sakit, akan kubuat juga Ibu menderita, sampai jiwamu pun sakit, sesakit aku.

                                                                                       cerita selanjutnya >>


Penulis: Inawati


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?